Profil Anggito Abimanyu (Foto: Instagram / anggitoabimanyuofficial)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu membantah isu bahwa masyarakat saat ini, mengalami fenomena ‘mantab’ atau kependekan dari makan tabungan.
Hingga saat ini, kata mantan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) itu, kelompok masyarakat yang memiliki tabungan di perbankan dengan nominal di bawah Rp100 juta, hingga di atas Rp5 miliar, masih mencatatkan pertumbuhan.
“Enggak ya, semua masih tumbuh ya. Baik itu tabungan-tabungan yang di bawah Rp100 juta, maupun yang di atas Rp5 miliar. Semuanya tumbuh dan bergerak gitu ya,” kata Anggito kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).
Anggito menyampaikan, fenomena itu menunjukkan adanya pertumbuhan simpanan di semua kelompok masyarakat. “Jadi itu menunjukkan bahwa sebetulnya sirkulasi dana yang masuk ke bank, cukup mendukung kegiatan ekonomi. Yang sektor riil khususnya, ya,” ujarnya.
Selain itu, Anggito mengatakan, likuiditas di perekonomian nasional, masih menunjukkan tren positif. Artinya perkembangan uang beredar dalam arti luas (M2), terus mengalami peningkatan. “Peningkatan, ada peningkatan,” paparnya.
Kelas Menengah Ambruk
Sementara itu, Direktur Riset Infast Bestari, Muhammad Ridha memaparkan data yang sebaliknya. Di mana, posisi kelas menengah semakin tertekan. Hal ini tidak klop dengan data pemilik tabungan di bawah Rp100 juta yang bertambah, seperti yang disampaikan bos LPS itu.
“Logika ini mengasumsikan kelas menengah cukup mampu menopang dirinya sendiri di tengah pasar bebas. Padahal asumsi itu semakin tidak sesuai kenyataan,” kata Ridha, Sabtu (25/7).
Selanjutnya dia mengutip data Susenas BPS yang diolah Mandiri Institute. Di mana, jumlah kelas menengah di Indonesia turun dari 47,9 juta jiwa pada 2024, menjadi 46,7 juta jiwa pada 2025. Atau berkurang 1,1 juta jiwa.
Angka ini jauh lebih dalam dibanding penurunan 0,4 juta jiwa tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi per kapita kelas menengah pada 2025 hanya 4,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Di mana, kelompok miskin tumbuh 4,7 persen, aspiring middle class 4,8 persen, kelompok rentan 5 persen, dan kelompok atas 6,8 persen. Konsumsi pangan kelas menengah bahkan anjlok, tersisa 0,9 persen. Padahal sebelumnya masih 4,6 persen.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













