Dipicu Redanya Konflik di Timteng: Rupiah ‘Anteng’ Sementara di Rp18.134/US$

Iwan Medium.jpeg

Selasa, 9 Juni 2026 – 10:32 WIB

Nilai tukar rupiah menguat 62 poin ke level Rp17.325 per dolar AS pada perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi. (Foto: Antara)

Nilai tukar rupiah menguat 62 poin ke level Rp17.325 per dolar AS pada perdagangan Kamis (7/5/2026) pagi. (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) pada Selasa pagi (9/6) menguat tipis 0,29 persen, atau setara 54 poin, menjadi Rp18.134/US$. Dibandingkan penutupan kemarin yang berada di level Rp18.188/US$.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah dipengaruhi meredanya eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah (Timteng). “Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak dunia akibat meredanya ketegangan geopolitik di Timteng, di mana Iran dan Israel untuk sementara waktu menghentikan penyerangan,” kata Lukman di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Mengutip Anadolu, pemerintah Iran mengumumkan mengakhiri serangannya terhadap Israel, namun mengancam akan memberikan respons keras, jika rezim Israel kembali menyerang Lebanon.

Sebagaimana disiarkan Kantor Berita Tasnim, angkatan bersenjata Republik Islam Iran menyebut Israel dan para pendukungnya “seharusnya mendapat” pelajaran dari respons Teheran yang dilakukan “demi mendukung rakyat Lebanon yang ditindas”.

Namun, mereka memperingatkan, jika agresi Israel berlanjut, khususnya di Lebanon selatan, maka “tindakan yang jauh lebih parah dan menghancurkan akan menanti”.

Surat kabar Israeli Hayom melaporkan, Tel Aviv dan Washington menyampaikan pesan kepada Teheran bahwa tidak akan ada serangan lanjutan dari Israel jika Iran tidak melanjutkan serangannya.

“Namun, penguatan akan terbatas mengingat sentimen domestik yang masih negatif. Sentimen yang telah memburuk menjadi krisis kepercayaan,” ungkap Lukman.

Meski dibuka menguat tipis pada hari ini, posisi dolar AS masih cukup mahal. Menurut Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga barang atau inflasi.

Kondisi ini, kata dia, berpotensi menekan daya beli masyarakat, meningkatkan beban utang perusahaan dalam dolar AS, hingga memperbesar risiko pemutusan hubungan kerja (PHK), jika depresiasi rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

“Pelemahan rupiah di dalam negeri berimbas pada kenaikan harga barang konsumsi dan biaya produksi atau inflasi, penurunan daya beli, meningkatnya beban utang dalam dolar AS, serta potensi PHK. Jadi itu yang harus dijaga,” kata Ariston.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang