Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (26/5) nyaris nangkring ke level Rp17.800, tepatnya Rp17.795 per dolar AS (US$) pada penutupan perdagangan Selasa (26/5). Lalu apa respons Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang pernah meramalkan rupiah bakal menguat Rp15.000/US$.
Purbaya menilai anjloknya rupiah mendekati Rp17.800 per dolar AS, sangatlah tidak masuk akal, karena fundamental ekonomi Indonesia sedang bagus-bagusnya. “Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini enggak masuk akal, sebenarnya. Biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental,” ujar Purbaya di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta Selatan, Rabu (27/5/2026).
Saat ditanya apakah dirinya akan melakukan uji ketahanan (stres test) terhadap APBN 2026 terkait tren pelemahan nilai tukar rupiah, Purbaya menyatakan tidak. Selanjutnya dengan nada guyon, Purbaya menjawab dirinya yang stres.
“Ya, saya yang stres. Enggak ada (stres test), kami sudah hitung, pada waktu simulasi 100 dolar per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan,” jawab Purbaya.
Dia pun menjelaskan bahwa tidak ada rencana untuk merevisi sejumlah asumsi makroekonomi dalam APBN 2026. Misalnya terkait asumsi nilai tukar sebesar Rp16.500/US$ atau harga minyak dunia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar US$80 per barel. Sementara riilnya nilai tukar rupiah sudah bertengger di atas Rp17.500/US$ dan harga minyak dunia sudah di atas US$100 per barel. “Enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang APBN-nya,” lanjut Purbaya.
Dia menerangkan bahwa imbal hasil (yield) di pasar obligasi Indonesia, justru mengalami penurunan. Hal itu tak lepas dari aksi pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) treasury operation, demi menjaga nilai tukar.
“Tapi gini, walaupun rupiah melemah, kan bond yield-nya turun. Karena aksi dari pemerintah, aksi dari teman-teman kita di (Direktorat Jenderal) Perbendaharaan, untuk sedikit membeli, supaya yield-nya agak terkendali,” terang Purbaya.
Selama pasar obligasi di Indonesia terkendali, kata dia, aliran modal asing tetap akan masuk. Ke depan, akan ada aksi lagi untuk menjaga nilai tukar rupiah.
“Selama bond market, terkendali, kemauan investor untuk asing ya, terutamanya untuk investasi dan bonds kita pastilah terjaga juga,” bebernya.
Selanjutnya, mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyatakan sangat optimistis bahwa pemilik modal asing bakal kembali masuk ke pasar obligasi dalam negeri.
“Kita sudah mulai melihat adanya aliran modal asing masuk ke pasar obligasi kita. Ke depan, akan ada sejumlah tindakan pemerintah yang membantu nilai tukar rupiah menguat menjadi lebih signifikan,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












