Tak hanya merajai industri kreatif, tokoh perempuan muda Cahaya Manthovani buktikan kepedulian lewat program sosial dan torehan prestasi olahraga di ajang internasional. (Foto: Navaswara Bhuwana Kencana)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
/5)Industri kreatif di Indonesia perlahan mengalami pergeseran paradigma. Pendekatan yang dahulu cenderung formal dan korporatif kini mulai digantikan oleh hadirnya generasi pemimpin muda yang lebih kolaboratif, humanis, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Salah satu figur muda yang sukses mencuri perhatian publik adalah Cahaya Manthovani. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, Cahaya memegang posisi strategis sebagai Managing Director PT Navaswara Bhuwana Kencana.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai perhelatan (event) berskala nasional sukses dieksekusi tidak hanya dengan megah, tetapi juga sarat akan narasi dan dampak publik.
Cahaya, yang merupakan lulusan desain arsitektur dari Kyungsung University, Korea Selatan, mengaku banyak belajar dari kultur kreativitas di negara tersebut.
“Dari awal industri kreatif sudah ada di dalam jiwa saya, tapi kalau event adalah sesuatu yang mengikuti alur hidup. Dengan mengerjakan setiap pekerjaan dengan komitmen yang tinggi, Alhamdulillah orang-orang percaya terhadap saya,” ujarnya dalam keterangan persnya, Sabtu (2.
Portofolionya mencakup deretan acara bergaung besar, seperti Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara 2025 yang bertujuan mengembalikan budaya tutur, ABPEDNAS Jaga Desa Awards 2026 yang mengapresiasi pembangunan desa, hingga Inklusiland 2025 yang mengedepankan isu inklusivitas di ruang publik.
Cahaya dinilai berhasil merumuskan formula baru dalam dunia penyelenggaraan acara dengan menggabungkan pengalaman (experience), penceritaan (storytelling), dan dampak sosial (social impact) ke dalam satu ekosistem. Ia meyakini, sebuah acara harus memiliki tujuan jangka panjang.
Pada Suara Nusantara, misalnya, ia merancang acara tersebut untuk menekan kecanduan gawai sekaligus meningkatkan kepercayaan diri anak-anak muda melalui pemahaman cerita rakyat.
Kiprah Cahaya tidak sebatas pada dunia kreatif. Melalui Yayasan Inklusi Pelita Bangsa, ia aktif menjalankan program sosial.
Salah satu inisiatif terbesarnya adalah Program Makanan Bergizi Gratis-Swasta di Provinsi Banten, yang merangkul 12 UMKM lokal untuk menyalurkan bantuan kepada lebih dari 2.200 penerima manfaat di sekolah khusus penyandang disabilitas.
Di ranah olahraga, dedikasinya terbukti saat ia menjabat sebagai Chef de Mission (CdM) ASEAN Youth Para Games 2025 di Dubai. Di bawah arahannya, kontingen Indonesia sukses membawa pulang 59 medali, yang terdiri dari 23 emas, 23 perak, dan 13 perunggu.
Menepis Stigma Lewat Kinerja
Di balik deretan pencapaian impresifnya, Cahaya mengaku kerap dihadapkan pada tantangan stereotip terkait usia. Penampilannya yang awet muda sering kali membuat rekan bisnis meragukan kapasitasnya pada kesan pertama.
“Tantangan terbesar adalah kesan pertama (first impression). Sebagai perempuan dengan wajah yang terlihat jauh lebih muda dari umur asli, orang selalu mengira saya masih anak SMP, SMA, atau kuliah. Tidak ada yang mengira saya berusia 26 tahun,” ungkapnya.
Namun, stigma tersebut dipatahkannya melalui profesionalisme. Cahaya menegaskan bahwa ketegasan, ketelitian, dan komitmen tegak lurus terhadap misi pekerjaan adalah cara terbaik untuk membuktikan integritas kepemimpinannya.
Atas konsistensi dan dedikasinya, Cahaya telah meraih sejumlah penghargaan prestisius, di antaranya Puspa Nawasena pada Anugerah Puspa Bangsa 2025 dari Kompas TV dan predikat The Inspiring Woman dari Robb Report Indonesia.
Sebagai penutup, ia membagikan resep sukses bagi generasi muda yang ingin terjun sebagai wirausahawan. “Menjadi entrepreneur bukan sesuatu yang bisa dibangun secara instan. Perlu waktu dan ketekunan yang lama. Kuncinya adalah percaya diri, terus belajar, dan konsistensi terhadap perkembangan diri,” tutup Cahaya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












