Bank Indonesia Klaim Kenaikan Bunga SRBI Dorong Capital Inflow dan Stabilitas Rupiah

Clara Medium.jpeg

Rabu, 20 Mei 2026 – 23:24 WIB

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Antara).

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyebut, kenaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam dua bulan terakhir berhasil mendorong aliran masuk portofolio asing (foreign portfolio inflows) sekaligus menopang stabilitas nilai tukar rupiah.

Pada 13 Mei 2026, berdasarkan catatan BI, suku bunga SRBI meningkat menjadi 6,21 persen; 6,31 persen; dan 6,45 persen, masing-masing untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan.

“Itu (kenaikan bunga SRBI) berhasil mendorong portfolio inflow yang di triwulan I terjadi outflow yang besar dan kemudian kita kembalikan menjadi inflow dan mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Di tengah gejolak global akibat perang di Timur Tengah, BI mencatat aliran modal pada triwulan I-2026 mengalami net outflows sebesar US$0,8 miliar.

Namun, berbagai respons kebijakan yang ditempuh bank sentral pada akhirnya mampu mendorong kembali masuknya investasi portofolio asing pada triwulan II-2026 yang mencatatkan net inflows sebesar US$5,5 miliar hingga 18 Mei 2026.

Aliran modal asing tersebut terutama ditopang masuknya dana ke instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN) seiring meningkatnya imbal hasil pada kedua instrumen tersebut.

Adapun posisi instrumen moneter SRBI per 18 Mei 2026 tercatat sebesar Rp921,88 triliun, dengan kepemilikan nonresiden meningkat menjadi Rp221,59 triliun atau setara 24,04 persen dari total outstanding. Kondisi ini dinilai turut mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

BI juga terus memperkuat kebijakan stabilisasi rupiah melalui berbagai instrumen untuk menghadapi memburuknya gejolak global di tengah tingginya permintaan musiman valas domestik.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI meningkatkan intensitas intervensi valuta asing, baik melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (offshore) maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Bank sentral juga memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui penyesuaian threshold beli tunai valas terhadap rupiah tanpa underlying, peningkatan threshold jual DNDF/forward, serta peningkatan threshold beli dan jual swap yang berlaku sejak April 2026.

Selain itu, BI memperluas instrumen operasi moneter valas melalui instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah serta memperluas transaksi perdagangan dan investasi menggunakan mata uang lokal atau local currency transaction (LCT).

Pada akhir April 2026, posisi cadangan devisa Indonesia tetap terjaga sebesar US$146,2 miliar. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI-Rate diputuskan naik sebesar 50 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen.

Kenaikan BI-Rate tersebut menjadi langkah penyesuaian pertama setelah suku bunga acuan dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025.

Sepanjang 2025, BI sebelumnya telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan mencapai 125 basis poin.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, BI meyakini nilai tukar rupiah akan cenderung menguat pada Juli hingga Agustus 2026 seiring mulai melandainya permintaan valas domestik.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang