Kesenjangan Makin Lebar, Flexing di Medsos Ternyata Ikut Memicu Aksi Begal!

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Rabu, 20 Mei 2026 – 04:05 WIB

Hukum membunuh begal dalam Islam. (Foto: Freepik)

Hukum membunuh begal dalam Islam. (Foto: Freepik)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Maraknya aksi begal di kawasan DKI Jakarta belakangan ini menjadi topik hangat di tengah masyarakat. Publik pun dibuat resah oleh komplotan penjahat jalanan yang makin nekat beraksi, bahkan di siang bolong.

Merespons fenomena tersebut, Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Rissalwan Habdy Lubis mencoba membedah faktor utama pemicu maraknya aksi begal sekaligus penjambretan akhir-akhir ini.

“Secara sosial faktor apa yang paling dominan memicu aksi begal ini ya pastinya memang faktor ekonomi,” kata Rissalwan kepada Inilah.com, Selasa (19/5/2026).

Namun demikian, Rissalwan menegaskan persoalan begal dan sejenisnya harus dilihat secara lebih luas. Dari kacamatanya sebagai pengamat sosial, masalah ini tidak melulu soal urusan perut atau ekonomi.

“Tapi sekali lagi ya, kita harus bisa melihat dalam perspektif makronya memang ada permasalahan ekonomi di situ, lapangan kerja yang terbatas ya. Tapi menurut saya permasalahannya justru pada kesenjangan. Nah, ini level yang lebih rendah ya,” ucapnya.

Rissalwan mencermati, ada banyak hal yang membuat kesenjangan ini terasa menjadi salah satu pemicu kuat. Di era serba digital ini, masyarakat memang acap kali terpapar media sosial.

Sudahlah hidup susah di tengah situasi dan kondisi ekonomi yang tak pasti, sebagian orang juga harus menyaksikan realitas berbanding terbalik yang dirasakan orang lain.

Hal itu dapat dilihat lewat tren pamer harta di media sosial yang secara tidak langsung ikut menekan psikologis kelompok tertentu yang tidak bekerja.

“Kesenjangan, ketimpangan, pola hidup orang yang flexing ya, memang ada kaitannya tuh dengan pola perilaku kelompok tertentu ya, pamer,” tegasnya.

Namun demikian, Rissalwan mengatakan para pelaku ini memang acap kali tidak memilih korban mereka. Aksi kejahatan jalanan ini biasanya digerakkan oleh situasi spontan di lapangan.

“Nah cuma, pelaku begal ini kan tidak milih-milih, nah ini juga harus dipahami ya. Dia tidak bisa memilih, jadi dan dia begal ini bukan satu kejahatan yang terencana dengan rapi sebetulnya. Dia terencana tapi terencana dengan apa, mungkin setengah terencana lah begitu ya,” jelasnya.

“Jadi dia tidak menyasar orang tertentu ya, siapapun yang lewat. Jadi orang flexing-nya di mana, yang jadi korban malah mungkin masyarakat menengah ke bawah begitu,” tambah Rissalwan.

Oleh karena itu, Rissalwan menilai kebiasaan pamer kemewahan di jagat maya memegang peran yang cukup besar dalam memicu sensitivitas sosial dan mendorong seseorang berbuat nekat.

“Jadi saya kira memang faktor kesenjangan tadi, orang yang kehidupannya semakin pamer, media sosial yang semakin membuat sekelompok orang yang tidak bekerja itu semakin stres tertekan gitu ya, ‘Oh orang bisa jalan-jalan ke luar negeri, oh orang bisa ganti-ganti mobil’ ya,” tuturnya memungkas.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang