Dua kapal kargo impor minyak asal Singapura tujuan Indonesia baru-baru ini diperintahkan untuk berbalik arah padahal telah memasuki perairan Indonesia. Padahal, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengaku pemerintah RI sudah membayar untuk membeli minyak tersebut.
Merespons hal tersebut, anggota Komisi XII DPR RI Syarif Fasha menyebut Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan Bahlil untuk tetap membeli minyak tersebut sesuai perjanjian awal. Adapun dalam hal ini, pembelian minyak asal Singapura telah dibeli melalui proses tender oleh PT Pertamina.
“Presiden juga sudah memerintahkan Menteri ESDM untuk tetap sesuai dengan perjanjian awal, kontrak sesuai tender,” ujar Syarif kepada Inilah.com di Jakarta, Sabtu (4/4/2026).
Jajaki Pembelian BBM dari Negara Lain
Lebih lanjut, Syarif mengatakan Komisi XII DPR RI juga mengusulkan agar PT Pertamina menjajaki pembelian bahan bakar minyak dari negara lain. Kata dia, pihaknya menyarankan untuk membeli BBM dari Kazakhstan.
“Kami sudah menyarankan kepada pihak Pertamina Patra Niaga untuk menjajaki pengadaan BBM dari negara Khazakastan dan sekitarnya, karena negara-negara di wilayah ini berlimpah produksi BBM-nya dan pemakaian dalam negerinya minim,” kata dia.
Lapor ke Prabowo
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden Prabowo masalah pembelian minyak dari Singapura. Dua kargo minyak yang sudah menuju Indonesia disebut sempat diminta kembali oleh penjual.
Dalam laporannya, Bahlil menjelaskan minyak tersebut sebelumnya telah dibeli melalui proses tender oleh Pertamina melalui trader. Kapal pengangkut bahkan sudah berangkat dari Singapura dan memasuki perairan Indonesia.
Namun di tengah perjalanan, dua kapal yang membawa kargo minyak tersebut diminta untuk kembali oleh pihak penjual.
“Ada beberapa kejadian sekarang. Tiga-dua hari lalu, kita sudah membeli minyak dari Singapura. Sudah berangkat, ditenderkan oleh Pertamina lewat trader. Sudah berangkat, sudah masuk ke Laut Indonesia. Kemudian dsuruh kembali lagi dua kargo,” ujar Bahlil di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Menurutnya, kondisi pasar minyak global saat ini membuat mekanisme perdagangan tidak lagi berjalan normal. Kelangkaan pasokan membuat pihak yang menawarkan harga lebih tinggi berpotensi mengambil alih pasokan yang sudah dijual.
“Karena siapa ada cuan, dia beli. Barangnya sekarang susah,” kata dia.
Sampaikan Protes
Merespons kejadian tersebut, pemerintah langsung berkoordinasi dengan Pertamina untuk menyampaikan protes kepada pihak penjual. Pemerintah juga menegaskan akan mengambil langkah hukum apabila pengiriman tidak dilanjutkan.
Setelah dilakukan komunikasi dan tekanan kepada pihak penjual, masalah tersebut akhirnya menemui titik terang. Bahlil mengatakan minyak tersebut akan dikirim melalui dua kapal kargo itu ke Indonesia.
“Nah, untuk dua kapal itu kami melakukan koordinasi dengan Pertamina. Kami telah melakukan komplain dan tanggal 18 sudah ada pengembaliannya dua kargo itu. Kalau tidak, kita gugat sesuai dengan apa yang Bapak Presiden arahkan. Tapi kelihatannya mereka agak gertak-gertak dikit agak takut juga, Pak,” tutur Bahlil.












