Warga AS Ngamuk BBM Naik Gila-gilaan Gara-gara ‘Perang’ Trump

Nebby Medium.jpeg

Jumat, 3 April 2026 – 22:35 WIB

Demonstrasi kolosal 'No Kings' mengguncang 3.000 titik di Amerika Serikat menentang kebijakan Presiden Donald Trump. (Foto: Associated Press)

Demonstrasi kolosal ‘No Kings’ mengguncang 3.000 titik di Amerika Serikat menentang kebijakan Presiden Donald Trump. (Foto: Associated Press)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat terus merangkak naik seiring lonjakan harga minyak mentah global akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan ini mendorong harga bensin rata-rata nasional melampaui angka psikologis 4 dolar AS per galon.

Kondisi tersebut memicu keluhan dari masyarakat, terutama di tengah tekanan biaya hidup yang sudah meningkat akibat inflasi.

Di sejumlah wilayah, harga bensin bahkan sudah berada di atas rata-rata nasional. Perbedaan harga juga dipengaruhi metode pembayaran, di mana transaksi non-tunai umumnya dikenai tarif lebih tinggi.

Seorang warga Virginia, Jeanne Williams (83), mengaku terkejut saat melihat harga BBM ketika melakukan perjalanan dari Richmond menuju Falls Church.

“Itu mengerikan. Saya tidak marah, saya hanya bingung, kacau, dan tidak senang. Kami tidak meminta perang ini,” katanya dikutip dari AFP, dikutip Jumat (3/4/2026).

Di lokasi tersebut, harga bensin tercatat mulai dari 3,79 dolar AS per galon untuk pembayaran tunai. Namun, harga bisa menembus 4,25 dolar AS per galon jika menggunakan kartu.

Keluhan serupa disampaikan Luis Ramos (26), warga New York City. Ia menyebut kenaikan harga bahan bakar semakin memperberat beban hidup yang sudah tinggi.

“Sungguh tidak masuk akal. Melihat harga bensin meroket, benar-benar luar biasa. Biaya hidup sudah meroket,” ujarnya di sebuah SPBU di New Jersey.

Sementara itu, Joseph Crouch (77), seorang pensiunan tentara, juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi yang terjadi.

“Ini konyol. Harganya sangat tinggi. Saya rasa pemerintah tidak tahu apa yang mereka lakukan,” kata Crouch.

Ia menilai lonjakan harga BBM berkaitan erat dengan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya.

“Kita sedang menanggung akibat dari perang ini. Mereka mencoba mengatakan ini dikarenakan hal lain, tetapi ini jelas karena perang,” ujarnya lagi.

Data menunjukkan, harga bensin reguler di AS telah meningkat sekitar 35 persen dibandingkan sebelum konflik pecah. Bahkan, sejak awal eskalasi, kenaikan harga energi terjadi secara signifikan.

Ekonom Bloomberg, Eliza Winger, menilai kenaikan harga energi tidak hanya berdampak langsung pada konsumen, tetapi juga berpotensi menekan aktivitas ekonomi secara lebih luas.

“Kami memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10% mengurangi pengeluaran konsumen riil sekitar 0,2%,” katanya.

Menurut dia, dampak tersebut dapat menurunkan konsumsi masyarakat dan memicu efek lanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang