Jurnalis Gaza Mohammed Rabah melaporkan langsung kondisi warga Palestina yang mengungsi di Jalur Gaza kembali menghadapi penderitaan baru setelah badai pasir hebat melanda wilayah tersebut sejak pekan lalu.
Dalam laporannya yaang diterima inilah.com, Minggu (22/3/2026), warga yang tinggal di kamp-kamp pengungsian terbangun dalam kondisi cuaca ekstrem yang menyapu hampir seluruh wilayah, menurunkan jarak pandang dan memperburuk kondisi kehidupan yang sejak awal sudah sulit akibat konflik berkepanjangan.
“Badai ini menjadi pukulan tambahan bagi para pengungsi yang hidup dalam keterbatasan,” ungkap Rabah dalam laporannya.
Ia menggambarkan situasi di lapangan begitu dramatis, terutama di Gaza City. Angin kencang menerjang kamp-kamp pengungsi, membuat tenda-tenda darurat yang rapuh berguncang keras.
Debu tebal beterbangan di udara hingga mengubah warna langit menjadi kekuningan. Dalam kondisi tersebut, warga terlihat kesulitan berjalan, berusaha melindungi diri dari terpaan angin dan debu yang semakin pekat seiring badai yang terus menguat.
Menurut laporan yang diterima, badai pasir ini juga menyebabkan sejumlah tenda beterbangan dan rusak, memperparah kondisi para pengungsi yang tidak memiliki perlindungan memadai.
Debu halus yang menyelimuti wilayah Gaza turut meningkatkan risiko kesehatan, terutama penyakit pernapasan.
Situasi itu memperlihatkan betapa rentannya kehidupan warga yang tinggal di kamp-kamp darurat yang tidak dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrem.
Ancaman Kesehatan Mengintai

Kondisi yang terjadi semakin memperburuk kehidupan para pengungsi yang sejak lama hidup dalam keterbatasan.
Kamp pengungsian yang dibangun secara darurat tidak mampu menahan terpaan cuaca ekstrem, membuat setiap keluarga berada dalam ancaman serius.
Media Palestina melaporkan, badai pasir menyebabkan kerusakan di berbagai titik kamp pengungsian, tenda-tenda berhamburan, karena debu menyapu seluruh wilayah kantong tersebut.
Selain itu, debu yang menyebar luas meningkatkan potensi gangguan kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan.
Dipicu Angin Khamsin
Fenomena cuaca ekstrem itu diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Para ahli cuaca menyebut badai ini dipengaruhi oleh angin khamsin, yakni angin musiman panas dan berdebu yang kerap melanda kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut semakin mempersempit ruang aman bagi para pengungsi yang hidup tanpa perlindungan layak.
Hidup dalam Ketidakpastian

Di tengah badai yang melanda, sebagian besar warga Gaza masih hidup sebagai pengungsi internal. Rumah-rumah mereka telah hancur akibat konflik, memaksa mereka tinggal di tenda-tenda sederhana yang minim perlindungan.
Organisasi kemanusiaan sebelumnya telah memperingatkan, tenda-tenda rapuh tersebut tidak mampu bertahan dari hujan lebat, angin kencang, maupun suhu dingin ekstrem.
Bahkan pada musim dingin sebelumnya, kondisi serupa dilaporkan telah menyebabkan korban jiwa.
Bagi warga Gaza, badai pasir ini menjadi simbol baru dari penderitaan yang seolah tak berujung.
Ketika konflik belum mereda dan bantuan kemanusiaan masih terbatas, bencana sekecil apa pun dapat berubah menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup mereka.










