Teheran akhirnya buka suara. Teka-teki mengenai nasib orang paling kuat di lingkaran pertahanan Iran terjawab sudah. Dewan Keamanan Nasional Iran resmi mengonfirmasi wafatnya Ali Larijani, Selasa (17/3/2026), di tengah kecamuk perang yang kini memasuki pekan ketiga.
Kematian Larijani menjadi pukulan telak bagi Iran. Betapa tidak, sejak gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari lalu, Larijani-lah yang memegang kendali penuh atas navigasi militer dan keamanan nasional Negeri Para Mullah tersebut.
Target Nomor Wahid Israel
Sebelum konfirmasi resmi ini keluar, Israel sudah lebih dulu sesumbar. Tel Aviv mengeklaim bahwa serangan udara mereka berhasil menyasar Larijani.
Bagi intelijen Barat dan Israel, sosok ini bukan orang sembarangan. Ia disebut sebagai figur paling krusial di Iran saat ini, melampaui pengaruh Presiden maupun Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei.
Larijani adalah otak di balik strategi ‘hukuman’ terhadap negara-negara tetangga Arab yang nekat menampung pangkalan militer Amerika Serikat (AS). Ia juga yang mengoordinasikan peluncuran ratusan rudal ke jantung Israel pada Juni 2025 silam sebagai balasan atas sabotase fasilitas nuklir Iran.
Dari Doktor Filsafat hingga Komandan IRGC
Menilik rekam jejaknya, Larijani adalah perpaduan unik antara intelektualitas dan tangan besi. Lahir di Najaf, Irak, pada 1958, ia menyandang gelar doktor di bidang filsafat. Namun, kariernya justru moncer di dunia militer dan politik.
Jejak langkahnya membentang luas:
Militer: Pernah menjabat sebagai komandan di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Media dan Politik: Menjadi kepala penyiaran negara hingga menjabat Ketua Parlemen Iran.
Diplomasi Nuklir: Pada 2005-2007, ia menjadi negosiator ulung yang disegani Eropa karena sikapnya yang pragmatis namun tetap teguh pada prinsip.
Sempat dipinggirkan pada 2009 karena dituding mendukung kelompok reformis, Larijani melakukan comeback gemilang tahun lalu. Ia dipanggil kembali ke pusat kekuasaan karena dianggap paling mumpuni meredam gejolak domestik dan menghadapi tekanan eksternal.
Ancaman untuk Donald Trump
Sesaat setelah perang pecah pada akhir Februari lalu, Larijani langsung menunjukkan taringnya. Pria berusia 67 tahun ini dengan lantang bersumpah bahwa Presiden AS Donald Trump harus membayar mahal atas kematian Khamenei.
Di mata pejabat Barat, Larijani adalah ‘Si Kancil’ yang pragmatis. Ia bisa duduk manis di Oman untuk bernegosiasi dengan AS, namun di saat bersamaan, ia bisa terbang ke Arab Saudi dan Qatar untuk memberikan peringatan keras: “Jangan biarkan AS menyerang dari tanah kalian, atau kalian jadi target kami.”
Kini, sang arsitek strategi itu telah tiada. Di tengah dentum meriam dan serangan udara yang belum berhenti, wafatnya Larijani meninggalkan lubang besar dalam struktur pertahanan Iran.
Dunia kini menunggu, siapa yang akan memegang kendali rudal Teheran selanjutnya?









