Citra satelit menunjukkan terminal minyak di Pulau Kharg, Iran, 25 Februari 2026. (Foto: Planet Labs PBC/Handout)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan ambisi terbesarnya dalam konflik melawan Iran dengan rencana penguasaan Pulau Kharg, pusat vital ekspor minyak Teheran.
Untuk memuluskan langkah tersebut, Washington telah mengerahkan sekitar 5.000 pasukan Marinir menuju Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Manuver militer besar-besaran ini diambil menyusul tewasnya 13 tentara Amerika Serikat dalam rangkaian serangan selama perang yang terus mengalami eskalasi.
Berdasarkan laporan dari Wall Street Journal, pengerahan pasukan berskala besar ini telah mendapat lampu hijau dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth. Ia secara resmi menyetujui permintaan dari Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command) untuk mengirimkan unit ekspedisi Marinir.
Unit tempur ini biasanya beroperasi dengan dukungan beberapa kapal perang tangguh dan mengangkut sekitar 5.000 personel pasukan tempur elite.
Sebagai ujung tombak operasi ini, armada militer Amerika Serikat mengerahkan kapal serbu amfibi USS Tripoli (LHA-7) yang sebelumnya disiagakan di pangkalan Jepang.
Kapal perang raksasa tersebut kini tengah berlayar menuju perairan Timur Tengah dengan membawa ribuan pasukan Marinir. Kehadiran armada ini dirancang untuk memperkuat secara signifikan postur pasukan Amerika Serikat yang sudah lebih dulu diterjunkan di kawasan konflik bersenjata tersebut.
Di tengah memanasnya medan pertempuran, pemerintahan Trump dikabarkan tengah menimbang opsi militer paling ekstrem, yakni perebutan paksa Pulau Kharg yang kerap dijuluki sebagai “Pulau Minyak” Iran.
Signifikansi pulau ini sangat krusial karena fasilitas di sana menangani sekitar 90 persen dari total ekspor minyak mentah Iran. Jika pulau strategis ini jatuh ke tangan pasukan Amerika Serikat, hal tersebut dipastikan akan menjadi pukulan telak yang melumpuhkan urat nadi ekonomi Republik Islam Iran.
Meski ancaman perebutan tersebut sangat nyata, Donald Trump menyatakan bahwa rencana invasi ke Pulau Kharg belum menduduki daftar prioritas utama operasi militer saat ini. Dalam wawancaranya yang dikutip dari Fox News Radio pada Sabtu (14/3/2026), Trump menggarisbawahi fleksibilitas taktik militernya.
Ia menyebut bahwa opsi perebutan itu hanyalah satu dari sekian banyak skenario yang disiapkan, namun ia juga menegaskan kemampuannya untuk mengambil keputusan drastis dengan sangat cepat.
“Itu bukan prioritas utama, tetapi salah satu dari banyak pilihan. Saya bisa berubah pikiran dalam hitungan detik,” ungkap Trump.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









