Bulan Madu Berakhir? Washington ‘Semprit’ Israel Usai Gempuran Fasilitas Minyak Iran

Kemesraan antara Washington dan Tel Aviv dalam palagan melawan Teheran mulai menemui kerikil tajam. Amerika Serikat (AS) secara resmi telah melayangkan peringatan keras kepada Israel untuk segera menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi di Iran. Peringatan ini muncul setelah militer Israel nekat memperluas target mereka hingga menghantam sejumlah depot minyak vital pada akhir pekan lalu.

Sebagaimana dilansir Wall Street Journal, para pejabat tinggi Gedung Putih dilaporkan telah menjalin komunikasi tegang dengan pihak Israel pada Senin (9/3/2026). Dalam pembicaraan tersebut, Washington secara terbuka menyatakan ketidaksenangan mereka atas langkah sepihak Israel yang menyasar fasilitas energi Iran.

Instruksi Tegas: Jangan Ulangi Tanpa Izin!

Bukan sekadar keberatan, Washington bahkan memberikan instruksi yang sangat spesifik. Israel dilarang keras mengulangi tindakan serupa di masa depan, kecuali jika telah mendapatkan ‘lampu hijau’ atau persetujuan langsung dari pemerintah AS.

Langkah Israel ini ternyata tidak hanya membuat gerah para diplomat, tetapi juga memicu kritik dari lingkaran dalam sekutu Presiden Donald Trump. Bahkan Senator Lindsey Graham, yang selama ini dikenal sebagai ‘elang’ pendukung perang, mulai melontarkan nada sumbang terkait strategi serangan Israel yang dianggap melampaui batas.

Perselisihan Signifikan Pertama

Laporan dari Axios menyebutkan bahwa serangan Israel terhadap 30 pangkalan minyak Iran pada Sabtu (7/3/2026) telah menyulut kekecewaan mendalam di pihak AS. Seorang pejabat senior AS mengungkapkan bahwa jangkauan serangan tersebut jauh melampaui apa yang dibayangkan Washington saat Israel memberikan pemberitahuan awal.

Ini menjadi perselisihan signifikan pertama antara AS dan Israel sejak perang meletus pada 28 Februari lalu. Washington merasa dikelabui oleh luasnya jangkauan serangan yang dilakukan oleh militer Israel.

“Kami rasa itu bukan ide yang bagus,” cetus seorang pejabat senior AS dengan nada getir.

Kekhawatiran Bumerang Strategis

Lantas, mengapa AS mendadak menarik rem darurat? Ada kekhawatiran besar di Pentagon dan Gedung Putih bahwa serangan terhadap infrastruktur yang melayani kepentingan publik Iran dapat menjadi bumerang secara strategis.

Alih-alih melemahkan rezim, gempuran terhadap depot minyak yang berdampak pada kehidupan warga sipil dikhawatirkan justru akan menyatukan rakyat Iran di belakang pemerintahannya. AS tidak ingin serangan ini dimanfaatkan oleh Teheran sebagai alat propaganda untuk menggalang dukungan nasionalisme masyarakat Iran terhadap ‘agresi asing’.

Di tengah situasi Selat Hormuz yang kian genting, pembangkangan kecil Israel ini bisa berujung pada komplikasi yang lebih luas. Kini, bola panas ada di tangan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu: tetap mengikuti ritme Washington atau terus melaju dengan agenda militernya sendiri yang berisiko memutus dukungan dari sang penyokong utama.