Situasi Makin Panas, Pakar Cemaskan Nasib 3 Juta WNI di Timur Tengah

Reza Medium.jpeg

Sabtu, 7 Maret 2026 – 00:01 WIB

Ilustrasi - Serangan Amerika Serikat dan Israel di wilayah pemukiman penduduk Iran. (Foto: Antara/Anadolu/py)

Ilustrasi – Serangan Amerika Serikat dan Israel di wilayah pemukiman penduduk Iran. (Foto: Antara/Anadolu/py)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pemerintah didorong untuk memprioritaskan keselamatan warga negara Indonesia (WNI) di negara-negara Teluk seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Langkah evakuasi dinilai jauh lebih mendesak dibandingkan ambisi mengambil peran sebagai penengah konflik.

Pakar geopolitik Timur Tengah UGM, Siti Mutiah Setyawati, menekankan pentingnya strategi penanganan yang terukur. Bagi Siti, prioritas pertama saat ini adalah perlindungan warga di zona merah.

“Ada hal yang kita pikirkan lebih jauh, yaitu langkah immediate, middle plan, dan long-term. Yang paling dekat saat ini adalah menyelamatkan warga Indonesia yang ada di sana,” ujar Siti Mutiah, Jumat (6/3/2026).

Jumlah WNI di kawasan tersebut sangat signifikan. Selain pekerja sektor informal, banyak tenaga ahli Indonesia yang bekerja di sektor minyak dan teknologi, bahkan hingga ke Iran.

“Teluk itu sangat kaya dan konsentrasi PMI atau pekerja migran Indonesia kira-kira lima tahun lalu sekitar 3 juta orang yang unskilled worker. Yang skilled worker juga banyak,” ungkapnya.

Siti mengaku telah menjalin komunikasi dengan Kementerian Luar Negeri terkait rencana evakuasi. Meski ada skenario yang sudah disiapkan, kendala di lapangan justru muncul dari keinginan warga sendiri.

“Orang Kemlu kemarin bilang, ‘Bu kami sudah sebetulnya, tetapi tidak semuanya diumumkan.’ Katanya banyak juga yang tidak mau dievakuasi karena merasa lebih nyaman tetap tinggal di Timur Tengah,” ujarnya.

Kondisi diperparah dengan lumpuhnya sejumlah jalur transportasi udara. Maskapai besar seperti Qatar Airways hingga Emirates kini membatasi operasi karena risiko keamanan ruang udara yang tinggi.

“Sekarang terhenti semua karena ini bisa menjadi target serangan. Maskapai tidak berani menerbangkan pesawat, sehingga banyak penumpang tertahan di bandara. Berapa banyak warga Indonesia yang tertahan juga, itu yang harus kita perhatikan,” pungkasnya.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang