Lorong Waktu Sejarah Palestina” yang digelar di Sekolah Alam Indonesia (SAI) Cipedak – Kampus Mampang, Depok, Sabtu (28/2/2026). (Foto: SAI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Lebih dari 1.000 pengunjung memadati pameran edukatif bertajuk “We Are (also) Palestinian: Lorong Waktu Sejarah Palestina” yang digelar di Sekolah Alam Indonesia (SAI) Cipedak – Kampus Mampang, Depok, Sabtu (28/2/2026).
Acara ini merupakan puncak dari metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning/PjBL) lintas jenjang yang telah digodok oleh para siswa selama beberapa pekan terakhir.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak menyusuri instalasi visual layaknya sebuah lorong waktu yang menceritakan perjalanan sejarah dan sisi kemanusiaan warga Palestina.

Principal Sekolah Alam Indonesia Cipedak, Endah Mawarti, menjelaskan bahwa inisiatif ini berangkat dari nilai dasar kemanusiaan yang dipegang teguh oleh pihak sekolah.
“Sekolah berpijak pada nilai kemanusiaan. Di sini kami bermaksud menumbuhkan solidaritas terhadap masyarakat Palestina sebagai bagian dari pembelajaran empati dan keadilan sosial. Kami ingin anak-anak tidak hanya memahami fakta sejarah, tetapi juga belajar melihat peristiwa kemanusiaan dengan hati nurani dan pemikiran yang kritis,” ungkap Endah.
Menariknya, pameran ini menyajikan perspektif yang disesuaikan dengan tahap perkembangan peserta didik. Pada jenjang usia dini dan sekolah dasar kelas bawah (TK hingga SD 2), proyek dituturkan lewat pendekatan yang hangat, seperti tema “Palestine Is My Family” dan “Rumah Impian Anak Palestina”.
Semakin tinggi jenjang pendidikannya, tema yang diangkat menjadi lebih kompleks dan kritis. Siswa kelas atas hingga sekolah lanjutan (SL) mengeksplorasi isu identitas, lanskap sejarah, hingga dinamika diplomasi, seperti tema “Taufan Al-Aqsa” dan “Universal Language in Diplomatic Act for Palestine”.

Kesuksesan acara ini tak lepas dari kolaborasi erat seluruh elemen komunitas sekolah. Siswa secara aktif melakukan riset dan mengolah ide menjadi karya, sementara guru mengambil peran sebagai fasilitator.
Di sisi lain, para orang tua juga terlibat langsung dalam mendampingi anak-anak dari proses persiapan hingga penyediaan properti pameran.
Melalui kolaborasi ini, “Lorong Waktu Sejarah Palestina” berhasil bertransformasi dari sekadar pameran sekolah menjadi ruang belajar yang hidup, di mana siswa bertindak tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai penyampai pesan kemanusiaan kepada masyarakat luas.









