Buka Suara Soal Gugatan MK, Telkomsel: Kuota Internet Itu Ibarat Tiket Dufan, Bukan Token Listrik

Manajemen Telkomsel akhirnya buka suara merespons polemik gugatan penghapusan masa aktif kuota internet (kuota hangus) yang tengah bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK). Sebagai pemimpin pasar telekomunikasi di Indonesia, Telkomsel secara tegas mengedukasi publik mengenai miskonsepsi tata kelola jaringan, sekaligus memperingatkan potensi ancaman terhadap struktur tarif internet murah di Tanah Air.

Vice President Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, meluruskan anggapan keliru dari sebagian masyarakat yang menyamakan kuota internet dengan komoditas fisik yang bisa ditimbun tanpa batas waktu.

Secara legal dan regulasi, pembelian paket data adalah kesepakatan kontrak akses jaringan berbasis waktu (time-based). Fahmi menganalogikan layanan kuota internet prabayar ini seperti halnya membeli tiket masuk taman hiburan.

“Analoginya paket pulsa itu tidak sama dengan token listrik. Analoginya kayak Dufan lah. Dufan itu kan ada tiket yang berbatas waktu. (Misal) saya belum masuk semua wahananya, baru dua karena antrean, lalu habis waktunya (jam operasional tutup). Tiket itu tetap berbatas waktu,” jelas Fahmi saat dijumpai inilah.com dalam sesi doorstop di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Antisipasi Lonjakan Trafik 11,1 Persen Selama Ramadan, Telkomsel Siagakan AI dan 45 COMBAT. (Foto: inilah.com/inu)

Fahmi juga mengumpamakannya dengan masa kedaluwarsa (expiry date) pada produk kesehatan. “Seperti minum obat, apalagi obat batuk ada expiry date-nya. Padahal saya belum pernah minum obat tersebut,” tambahnya memberikan ilustrasi rasional.

Ancaman Berakhirnya Era Internet Murah

Lebih jauh, Telkomsel tengah mengkaji secara mendalam dampak sistemik jika MK mengabulkan gugatan yang mewajibkan sisa kuota terus diakumulasi (rollover penuh). Fahmi memperingatkan bahwa pemaksaan skema tersebut dipastikan akan berdampak langsung pada pelanggan dan merusak struktur subsidi silang di seluruh operator.

Hal ini krusial lantaran skema berbatas waktu yang diterapkan saat ini terbukti sukses menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan harga internet paling terjangkau di dunia.

“Kita kasih pertimbangan, karena faktanya kita adalah yang memiliki the lowest tariff (tarif termurah) sekarang, jika dicompare (dibandingkan) dengan beberapa negara yang melakukan rollover,” tegas Fahmi.

Konsumen Sudah Punya Pilihan

Terkait keluhan pemohon di MK yang merasa dirugikan karena sisa kuotanya hangus, Fahmi menjelaskan bahwa industri sebenarnya sudah sangat memanjakan konsumen dengan berbagai pilihan strategi bisnis.

Telkomsel secara spesifik telah melakukan segmentasi (slicing) kebutuhan pelanggan. Operator menyediakan berbagai varian paket, mulai dari eceran 3GB hingga puluhan gigabyte, sehingga pelanggan bisa membeli sesuai dengan batas pemakaian normal mereka.

“Kenapa kita come up dengan beberapa paket? Sebenarnya kan kita sudah slicing nih kebutuhan pelanggan. Kalau butuhnya 3GB atau 10GB, kita memberikan offering package-nya seperti itu,” paparnya.

Fahmi menambahkan, jika pelanggan merasa sisa kuotanya terlalu banyak saat masa aktif berakhir, hal itu murni karena pelanggan membeli paket jauh melebihi kapasitas kebutuhannya. Meski demikian, Telkomsel tidak lepas tangan. Bagi pelanggan yang memang membutuhkan fleksibilitas waktu, Telkomsel sebenarnya sudah menyediakan opsi produk rollover tersendiri yang bisa dipilih.

Satu Suara Patuh pada Hukum

Merespons miskonsepsi yang kadung beredar luas, Telkomsel bersama Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) terus melakukan edukasi ke masyarakat bahwa kuota internet bukanlah barang fisik, melainkan kapasitas jaringan.

Meski terus memberikan pertimbangan rasional terkait ancaman kenaikan tarif dasar internet nasional, Fahmi memastikan bahwa seluruh operator seluler di Indonesia tetap dalam barisan yang sama (satu suara) untuk menghormati proses hukum.

“Apapun yang terjadi, kita akan taat hukum, kita akan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Semua operator juga kompak kok, maksudnya sama lah. Udah satu suara,” pungkas Fahmi.