Fenomena kemunculan lubang raksasa yang terus melebar di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, belakangan ini memicu kekhawatiran warga setempat. Banyak masyarakat mengira fenomena mengerikan tersebut adalah sinkhole (tanah ambles) yang bisa menelan kawasan sekitarnya secara tiba-tiba.
Menanggapi keresahan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turun tangan memberikan penjelasan ilmiah yang meluruskan miskonsepsi di tengah masyarakat.
Fakta Geologi: Longsoran, Bukan Sinkhole
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menegaskan bahwa lubang raksasa di Aceh Tengah tersebut bukanlah fenomena sinkhole.
Secara geologi, kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping (kapur) yang lazim menjadi penyebab sinkhole akibat pelarutan air bawah tanah. Area tersebut justru terbentuk dari endapan piroklastik berupa batu tufa—material hasil aktivitas Gunung Api Geurendong di masa lampau yang kini sudah tidak aktif.
“Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” jelas Adrin pada Kamis (10/02).
3 Pemicu Utama Melebarnya Lubang
Berdasarkan analisis citra satelit Google Earth, cikal bakal lembah atau ngarai kecil di kawasan tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak tahun 2010. Proses ini tidak terjadi semalaman, melainkan telah berlangsung puluhan hingga ratusan tahun.

BRIN mencatat ada tiga faktor utama yang mempercepat runtuhnya tanah di kawasan tersebut:
Dampak Gempa 2013: Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,2 yang mengguncang Aceh Tengah pada tahun 2013 diduga kuat telah melemahkan dan merusak struktur lereng, memicu ketidakstabilan masif di bawah permukaan.
Curah Hujan Tinggi: Batuan tufa yang rapuh sangat mudah jenuh oleh air hujan. Saat kadar air tinggi, daya ikat tanah hilang, menyebabkan lereng curam runtuh seketika.
Resapan Saluran Irigasi: Air permukaan dari saluran irigasi perkebunan warga turut memperburuk keadaan. Air yang mengalir deras dan masuk ke dalam tanah berongga membuat lapisan tufa di dasar tebing tergerus secara perlahan.
“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” tambah Adrin. Ia juga menyamakan proses pembentukan ini dengan fenomena Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang memiliki karakter batuan serupa.
Mitigasi: Apa yang Harus Dilakukan?
Meskipun BRIN sejauh ini baru melakukan analisis berdasarkan data citra satelit dan informasi publik, mereka merekomendasikan penelitian lanjutan di lapangan. Penggunaan metode geofisika seperti survei geolistrik atau seismik sangat diperlukan untuk memetakan struktur bawah tanah dan potensi rekahan baru.
Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, Adrin mendesak pemerintah daerah dan masyarakat untuk segera melakukan langkah mitigasi darurat:
Mengendalikan air permukaan (terutama irigasi) agar tidak terus meresap ke zona kritis.
Menetapkan batas zona bahaya agar warga tidak mendekati bibir tebing yang rawan longsor susulan.
Meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda awal amblesan, seperti munculnya retakan tanah di sekitar lokasi.
“Peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat. Yang terpenting sekarang adalah segera melakukan langkah mitigasi,” pungkasnya.













