PT Agrinas Impor 105 Ribu Mobil dari India, Industri Lokal Cuma Nonton dari ‘Pagar’

Clara Medium.jpeg

Jumat, 20 Februari 2026 – 16:40 WIB

Dirut PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota berfoto bersama Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia. Agrinas sepakat mengimpor 105.000 unit pikap dan truk dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih. [Foto: Tata Motors]

Dirut PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota berfoto bersama Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia. Agrinas sepakat mengimpor 105.000 unit pikap dan truk dari India untuk Koperasi Desa Merah Putih. [Foto: Tata Motors]

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

PT Agrinas Pangan Nusantara berencana melakukan pengadaan kendaraan dalam skala besar dengan melibatkan impor sebanyak 105 ribu unit kendaraan dari dua produsen otomotif asal India.

Sebanyak 35.000 unit Scorpio Pick-Up dipasok oleh Mahindra, sementara 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors yang terdiri atas tipe Yodha Pick-Up serta Ultra T.7 Light Truck.

Aktivitas ini menuai kritik karena dilakukan saat industri otomotif tengah terpuruk. Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menyebut, importasi mobil dan pick-up oleh Agrinas dari India semakin menunjukkan bahwa proyek ini bukan untuk ekonomi nasional, apalagi ekonomi di desa.

“Berapa uang negara yang dikirimkan kepada India, berapa yang diperoleh Agrinas. Masyarakat desa hanya bisa melihat saja tanpa terlibat aktif. Perusahaan otomotif lokal juga hanya menjadi penonton,” ujar Huda kepada Inilah.com, Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Ribuan mobil yang diimpor dari India merupakan kendaraan yang didatangkan dalam keadaan utuh atau siap pakai alias impor Completely Built Up (CBU). Pengadaan tersebut juga dinilai menyalahi aturan, di mana pemerintah memiliki kewajiban untuk mengutamakan produk dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 25 persen.

“Apa yang dilakukan Agrinas juga menyalahi aturan untuk penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) karena impornya CBU alias diimpor sudah jadi. Tidak ada aktivitas ekonomi yang diciptakan dari importasi ini. Bahkan bisa menggerus pangsa pasar dari produk pickup yang sudah diproduksi atau dirakit dalam negeri. Ekonomi kita bisa menyusut karena impor ini akan mengurangi PDB,” kata dia.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pada triwulan IV-2025, industri manufaktur menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Sektor ini menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sekaligus pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Secara tahunan, sektor ini mampu tumbuh hingga 5,40 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 4,43 persen. Pertumbuhan sektor manufaktur tahun 2025 merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

“Di satu sisi, kapasitas produksi mobil pickup kita sudah memadai dengan harga yang relatif lebih murah. Ada kejanggalan yang dilakukan oleh Agrinas ketika memilih impor dari India,” ucapnya.

Huda memprediksi, dengan adanya ribuan impor skala besar dari India, sektor manufaktur RI akan melemah. Hasilnya, industri otomotif tak menikmati Program Koperasi Desa Merah Putih.

“Yang pasti, PMI manufaktur sektor otomotif akan melemah. Padahal sektor otomotif kita termasuk yang bisa menyerap tenaga kerja formal secara masif,” ucapnya.

“Padahal jika di supply dari dalam negeri, potensi multiplier effect-nya lebih besar. Industri otomotif kita tidak menikmati program ini,” tambah dia.