Tak Sekadar Bising, Lapangan Padel Disebut Bisa Picu Gesekan Sosial

syahidan.jpg

Jumat, 20 Februari 2026 – 17:34 WIB

Ilustrasi. Inara Rusli mencoba olahraga padel yang lagir populer di Indonesia. (Foto: Instagram @mommy_starla)

Ilustrasi. Inara Rusli mencoba olahraga padel yang lagir populer di Indonesia. (Foto: Instagram @mommy_starla)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pengamat sosial Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Handy Lubis, menilai tren olahraga padel yang kian menjamur di kawasan perkotaan tak hanya memunculkan peluang bisnis, tetapi juga memantik persoalan di tengah permukiman warga. Menurutnya, selain keluhan kebisingan, kehadiran lapangan padel di lingkungan warga dapat memicu kecemburuan sosial.

Rissalwan menyebut fenomena ini tak lepas dari status padel sebagai olahraga yang sedang naik daun dan identik dengan gaya hidup kelas menengah ke atas.

“Memang padel ini lagi banyak ya jadi tren ya. Dan kita tahu kan sebetulnya padel ini olahraga baru menengah ke atas gitu,” kata Rissalwan saat dihubungi Inilah.com, Jumat (20/2/2026).

Menurutnya, tren tersebut mendorong banyak pihak mencoba peruntungan dengan membuka usaha penyewaan lapangan padel. Ia membandingkan dengan olahraga golf yang sejak awal memang berada di kawasan premium.

“Tapi yang bisa kita pahami pertama karena dia tren ya, banyak orang yang mencoba peruntungan sebetulnya ya, membuka usaha tempat olahraga padel ini ya. Jadi kalau kita bandingkan dengan golf misalnya ya, golf itu kan nggak mungkin kaleng-kaleng gitu ya, lokasinya pasti yang premium gitu ya. Sementara padel ini dia berusaha premium dari segi fasilitas di dalam lapangan olahraganya ya,” ujarnya.

Ia mengatakan, fasilitas yang ditawarkan padel pun tak main-main, mulai dari ruang mandi, kafe, hingga area parkir luas. Namun, persoalan muncul ketika keterbatasan lahan di kota besar membuat investor memilih lokasi yang dekat dengan rumah warga.

“Karena keterbatasan lahan di Ibu Kota Jakarta sekarang ini, di kota-kota besar umumnya, karena permainan padel ini kan nggak mungkin di pedesaan ya. Jadi akhirnya para investor atau para orang-orang yang ingin berbisnis di bidang penyediaan jasa olahraga padel ini, memilih tempat-tempat yang memang sempit di antara rumah-rumah orang ya,” ucapnya.

Rissalwan bahkan menyebut padel lebih dekat dengan aktivitas sosial ketimbang olahraga murni.

“Jadi lebih banyak ngobrolnya, kongko-kongkonya. Jadi kalau kita lihat tempat padel sebetulnya kafe sebetulnya. Tempat orang berpukul-pukulan sebentar gitu ya, tapi kemudian nanti lebih banyak ngobrolnya ya,” ujar dia.

Dari sisi sosial, ia melihat ada potensi gesekan dengan warga sekitar. Terlebih, adanya anggapan padel adalah olahraga untuk kelas menengah. Apalagi, ia menyoroti jika lapangan padel dekat dari permukiman warga yang perekonomiannya sulit.

“Jadi saya kira memang permasalahan kecemburuan sosial juga muncul di situ ya, bukan sekadar masalah izin gitu ya, tapi masalah akhirnya orang sebel juga gitu ya. Di samping-sampingnya mungkin banyak orang yang kesulitan secara ekonomi, tapi di sebelahnya ada lapangan padel yang menjulang tinggi ya, melihat orang dengan mobil-mobil keren gitu,” katanya.

Ia menegaskan, persoalan bukan semata perizinan bangunan, tetapi juga izin lingkungan dan sensitivitas sosial terhadap kondisi sekitar. Menurutnya, olahraga tentu sah dilakukan siapa saja. Namun, pelaku usaha tetap perlu mempertimbangkan dampak sosial yang timbul.

“Jadi saya kira ini memang harus disikapi ya, artinya memang sah-sah saja orang berolahraga gitu, tapi tolong perhatikan dampak pada kesenjangan sosial yang terjadi gitu ya,” ucapnya.

Ia menyarankan agar lapangan padel dikembangkan di area komersial, bukan di tengah permukiman warga yang berpotensi mengganggu kenyamanan.

“Kalau mau ya modalnya harus lebih besar, di gedung-gedung ya, sewa gedung, di dekat-dekat perkantoran, di dekat apartemen gitu ya, jadi jangan di perumahan warga yang akan mengganggu ya. Saya kira gangguannya itu lebih kepada kesenjangan itu sih ya, sebel aja gitu orang, saya kira gitu ya,” katanya.