Tampilan truk yang sedang menurunkan muatan kelapa sawit (Foto: marketeers)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Guru Besar Fakultas Ekonomi Pertanian Universitas Sumatra Utara (USU), Prof Diana Chalil menegaskan, budidaya kelapa sawit di lahan yang tepat, menjadi kunci pemulihan ekonomi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Dibandingkan komoditas lainnya, kata dia, perkebunan sawit memberikan multiplier effect positif jauh lebih besar. Baik secara sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
“Manfaat lingkungan tidak (selalu) lagi trade off dengan manfaat ekonomi. Kita belajar dari tsunami Aceh pada 2004, sawit menjadi preferensi petani karena menguntungkan. Perkebunan sawit rakyat banyak dari konversi komoditi lain,” kata Prof Diana dalam Diskusi Ilmiah Dialektika Sawit Indonesia di Kampus USU, Medan, Selasa (10/2/2026).
Peneliti dari Consortium Studies on Smallholder Palm Oil (CSPO) ini, mengatakan, baik secara nasional, maupun regional daerah yang tertimpa bencana alam di akhir tahun 2025, peran industri sawit cukup signifikan terhadap perekonomian. Karena itu, untuk memulihkan kondisi ekonomi pascabencana, budidaya tanaman sawit menjadi pilihan yang paling efektif.
“Dari total pendapatan devisa nasional kita, sebesar 73,83 persen disumbang pertanian. Dan subsektor pertanian yang memberikan kontribusi devisa terbesar adalah ekspor minyak sawit,” kata Prof Diana.
Secara regional, lanjut Prof Diana, sawit menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar bagi Provinsi Aceh. Sementara untuk Provinsi Sumut, sawit merupakan penyumbang devisa terbesar ketiga.
“Dari sisi penyerapan tenaga kerja, secara nasional sebesar 16,5 juta orang pada 2024. Terdiri dari pekerja langsung dan tidak langsung. Ini masih belum memperhitungkan pekerja yang terserap sektor hulu, hilir dan jasa. Terkait dalam sistem dan usaha agribisnis sawit,” tegasnya.
Berdasarkan penelitian Prof Diana dan tim di CSPO, terjadi peningkatan pendapatan signifikan masyarakat Sumut setelah dilakukan budidaya sawit. Misalnya di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, pendapatan masyarakat meningkat dari rata-rata Rp31,8 juta menjadi Rp42,1 juta per tahun.
Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI), Kacuk Sumarto menegaskan, perekonomian wilayah terdampak bencana seperti Aceh dan Sumut sangat bergantung kepada industri sawit. Hanya saja, tata kelola sektor pertanian dan perkebunan harus memperhatikan aspek kesesuaian lahan dengan komoditas yang akan ditanam.
“Jika aspek ekofisiologis diperhatikan, maka perkebunan sawit di seluruh Indonesia akan berkembang di tengah ekosistem lingkungan yang berkelanjutan,” kata Kacuk.
Dia mengatakan, perkebunan sawit di Sumut sudah ada lebih dari seabad. Di mana, kondisi lingkungan di sekitar perkebunan sawit tetap terjaga dengan baik. Namun, perubahan iklim yang terjadi saat ini, menjadi tantangan baru bagi pelaku sektor perkebunan dan pertanian. “Bagaimana dampak ekonomi yang positif tetap kita terima, tetapi risiko ekologisnya bisa diminimalkan,” kata Kacuk.













