Jangan Bangga Dulu Ekonomi 2025 Tumbuh 5,11 Persen, Kelas Menengah Susut Besar karena Kemiskinan

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 8 Februari 2026 – 21:19 WIB

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Senin (30/10/2023). (Foto: Antara).

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Senin (30/10/2023). (Foto: Antara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Beberapa waktu lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan (year on year/yoy). Naik ketimbang 2024 yang sebesar 5,03 persen.

Namun jangan bangga dulu, karena capaian pertumbuhan ekonomi 2025, meleset dari target sebesar 5,2 persen. Lebih miris lagi, jumlah kelas menengah susut signifikan.

Buat apa ekonomi tumbuh 5,11 persen jika banyak kelas menengah yang turun kasta, karena terpapar kemiskinan.

Dikutip dari hasil riset Mandiri Institute, Jakarta, Minggu (8/2/2026), jumlah kelas menengah di Indonesia berkurang berkurang 1,1 juta orang. Dari 47,9 juta orang pada 2024, menjadi 46,7 juta orang pada 2025.

Penurunan kelas menengah pada 2025 ini, lebih dalam ketimbang tahun sebelumnya sebanyak 0,4 juta orang. Jumlah tersebut setara dengan 16,6 persen dari total penduduk nasional.

Mandiri Institue mencatat, penurunan kelas menengah pada 2025 yang lebih dalam ketimbang 2024, menandakan kelas menengah menghadapi tantangan yang lebih berat. Tercermin dari pertumbuhan konsumsi yang lebih terbatas dibandingkan kelompok ekonomi lainnya.

Pada 2025, pertumbuhan konsumsi per kapita kelas menengah, hanya 4,1 persen (yoy). Atau lebih rendah ketimbang pertumbuhan konsumsi per kapita nasional yang mencapai 4,6 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah ketimbang kelompok lain.

Bandingkan dengan konsumsi masyarakat miskin saja tumbuhnya 4,7 persen (yoy). Sedangkan calon kelas menengah atau aspiring middle class, konsumsinya tumbuh 4,8 persen (yoy), kelompok rentan tumbuh 5 persen (yoy), dan kelompok atas tumbuh 6,8 persen (yoy.

Dari sisi komposisi pengeluaran, konsumsi kelas menengah ditopang sektor non-food yang tumbuh relatif resilien sebesar 6,4 persen (yoy). Atau meningkat dibandingkan pertumbuhan 3,2 persen pada 2024.

Namun, pendorong utamanya masih terkait pengeluaran gaya hidup (lifestyle driven). Di mana, pertumbuhan tertinggi didorong pengeluaran transportasi yang naik 22,5 persen (yoy). Sejalan dengan meningkatnya mobilitas perjalanan jarak pendek sepanjang 2025.

Laporan Semu BPS

Sebelumnya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, mengumumkan ekonomi Indonesia pada 2025 bertumbuh 5,11 persen. “Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen,” ujar Amalia, Jakarta, Rabu (5/2/2026).

Dia melaporkan, perekonomian Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada 2025, tercatat Rp23.821,1 triliun, Dan, atas dasar harga konstan mencapai Rp13.580,5 triliun.

Sedangkan menurut lapangan usaha, seluruh sektor tumbuh positif pada 2025, kecuali pertambangan. Sektor jasa lainnya mampu tumbuh 9,93 persen, disusul jasa perusahaan 9,10 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,78 persen.

BPS juga mencatat lapangan usaha yang berkontribusi paling besar terhadap PDB adalah industri pengolahan, mencapai 19,07 persen. Diikuti perdagangan 13,17 persen, pertanian 13,10 persen, konstruksi 9,83 persen, dan pertambangan 8,75 persen.

Khusus kuartal IV-2025, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,39 persen. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada kuartal IV-2025, tercatat Rp6.147,2 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp3.474,5 triliun.

Dilihat dari pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha, seluruhnya mengalami pertumbuhan positif pada 2025, kecuali usaha pertambangan. BPS mencatat pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan, disusul jasa lainnya, infokom, dan jasa keuangan.

“Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen, merupakan pertumbuhan tahunan triwulan IV tertinggi pasca-pandemi Covid-19,” kata Amalia.