Pengunjung mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). (Foto: Antara/Sulthony Hasanuddin)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Baru saja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal gara-gara adanya peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), makin ambruk diterpa laporan dari lembaga rating Moody’s Investors Service (Moody’s).
Saat penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), IHSG kembali ‘ndelosor’ bebas di bawah 8.000, tepatnya 7.935,26. Penurunan ini diduga karena adanya pemangkasan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terkoreksi 2,08 persen atau 168,61 poin, menuju 7.935,26. Indeks komposit dibuka di level 7.945,04, selanjutnya sempat menyentuh posisi tertingginya yakni 8.025,14. Tercatat, hanya 107 saham naik, 646 saham turun, dan 68 saham stagnan.
Sementara itu, kapitalisasi pasar alias market cap mencapai Rp14.369 triliun. Di tengah penurunan kinerja indeks komposit, saham dengan kapitalisasi jumbo atau big caps seperti PT Unilever Indonesia Tbk, (UNVR) masih mencatatkan penguatan sebesar 4,07 persen ke level Rp2.300 per saham.
Posisi itu disusul saham PT Telkom Indonesia (Persero/TLKM) yang naik 4,07 persen menjadi Rp3.380 per saham. Sedangkan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (ASII) melejit 1,42 persen ke level Rp8.925 per lembar.
Namun, nasib berbeda mendera PT Astra International Tbk (ASII) yang jusru terkoreksi 3,60 persen ke Rp6.700 per saham. Sementara saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melemah 2,98 persen ke Rp85.375 per saham.
Untuk PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu babak belur, anjlok 2,73 persen menjadi Rp8.025 per saham, dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) rontok 2,35 persen ke Rp14.575 per saham.
Sementara itu, saham top gainers hari ini dihuni oleh PT Nusantara Almazia Tbk. (NZIA) yang meroket 34,78 persen ke Rp248. Disusul, PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) naik 24,82 persen menjadi Rp1.710 per saham.
Di sisi lain, posisi saham paling boncos atau top losers ditempati oleh PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (MINA) terkoreksi 15 persen, menjadi Rp85 per saham, dan PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) melemah 14,94 persen ke Rp131 per saham.
Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan menyebut, pelemahan IHSG sebesar 2,83 persen ini, terjadi saat perdagangan sesi pertama. Secara teknikal, indeks masih bergerak di bawah resistance dinamis MA5 di kisaran 8.000, sementara indikator MACD histogram tetap berada di area negatif dan cenderung melebar. Artinya, momentum pelemahan IHSG, masih belum mereda.
Dari sisi sentimen, tekanan ini dipicu respons pelaku pasar terhadap perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s yang menjadi negatif. “Dengan kombinasi kedua sentimen tersebut, kami memperkirakan IHSG akan bergerak volatil dalam rentang 7.750 hingga 8.000 pada sesi kedua perdagangan hari ini,” ujar Valdy.











