Kisah Fans Memeras Keringat Berburu Tanda Tangan di Indonesia Masters

Haris Medium.jpeg

Sabtu, 24 Januari 2026 – 20:17 WIB

Arel (17) dan Syifa (16), dua remaja pecinta bulutangkis memamerkan hasil buruan tanda tangannya sepanjang turnamen Daihatsu Indonesia Masters 2026. (Foto: Inilah.com/Harris).

Arel (17) dan Syifa (16), dua remaja pecinta bulutangkis memamerkan hasil buruan tanda tangannya sepanjang turnamen Daihatsu Indonesia Masters 2026. (Foto: Inilah.com/Harris).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Bukan cuma atlet yang berkeringat di Daihatsu Indonesia Masters 2026. Di luar lapangan, tepatnya di balik pagar pembatas Istora Senayan, keringat juga mengucur deras dari para Badminton Lovers (BL). Mereka bukan sedang bertanding. Tapi mengejar tanda tangan idola.

Contohnya Arel (17) dan Syifa (16). Dua sahabat asal Jakarta Barat ini nongkrong di Istora Senayan sejak hari pertama turnamen BWF Super 500, Selasa (20/1/2026). Jersey putih di tangan mereka pun sudah jadi kanvas penuh coretan yang sarat nilai.

“Insya Allah nonton nanti sampai final dan kejar tanda tangan pemain-pemain lainnya,” kata Arel, sambil menatap area mixed zone.

Daihatsu Indonesia Masters 2026 memasuki perempat final, Jumat (23/1/2026). Nama Apriyani Rahayu dan Alwi Farhan jadi target utama Arel dan Syifa.

Syifa tampak paling kelelahan. Badannya kecil. Pagarnya tinggi. Setiap pemain keluar, ia harus meloncat, kaki jinjit, menyelip ke depan. Berkali-kali. Target utamanya hari itu tanda tangan Alwi Farhan, tapi sayang nasib belum berpihak.

Alwi mengalami kram usai bertanding, langsung dibawa ke ruang perawatan. Tak sempat menyapa penggemar. “Tadi saya nunggu tanda tangan Alwi. Cuma Alwi sudah keburu capek. Jadi enggak semua dapat, ada beberapa saja,” ujar Syifa, datar.

Arel pun apes. Tanda tangan Apriyani Rahayu yang diincarnya gagal didapat. Tapi ia tak pulang dengan tangan kosong. Jersey-nya sudah lebih dulu diisi coretan Jafar Hidayatullah, Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, Nikolaus Joaquin, hingga satu pemain China Taipei.

“Tadi aku sih kejar tanda tangan kak Apri. Sayang kak Aprinya tidak dapat. Jadi tadi dapatnya Jafar, Felisha, Joaquin, terus tadi ada satu pemain China Taipei. Saya pemain favoritnya kak Apri,” keluh Arel.

Misi boleh gagal, tapi semangat tetap menyala. Dua sahabat ini sepakat nonton sampai laga final. Apalagi, Apriyani dan Alwi sama-sama lolos ke semifinal. Artinya, masih ada kesempatan. Bagi mereka, berburu tanda tangan bukan sekadar koleksi. Ada rasa bangga dan terselip mimpi.

“Senang saja rasanya. Bisa mendapatkan tanda tangan dari pemain-pemain level dunia itu punya kebanggaan tersendiri,” ucap Arel.

“Kalau saya untuk kenangan, sekaligus pembakar semangat buat main badminton lagi. Kami berdua memang punya passion di sini dan sering main bareng juga,” timpal Syifa.

Lalu jersey-jersey itu mau diapakan? Tentu tidak akan dipakai, dicuci apalagi dijual. Kanvas penuh coretan itu akan mereka bingkai, dan ditempel di dinding kamar untuk dikagumi sepanjang waktu.

“Belum pernah ada tawaran sih, tapi saya juga tidak mau menjualnya. Alasannya simpel, ini untuk simpanan pribadi. Mau ditawar berapapun, saya tidak mau,” ujar Arel.

“Iya aku juga enggak ngasih tahu jersey-jersey ini. Enggak mau dijual juga,” tutur Syifa.