Pendidik Dikeroyok Murid, PGRI Sesalkan UU Perlindungan Guru Terlalu Lama Menggantung

Reza Medium.jpeg

Jumat, 16 Januari 2026 – 13:44 WIB

Guru SMKN 3 Tanjung Jabung Timur dikeroyok Siswa hingga Viral. (Foto: Expressjatim)

Guru SMKN 3 Tanjung Jabung Timur dikeroyok Siswa hingga Viral. (Foto: Expressjatim)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Guru SMK di Jambi, Agus Saputra, dihajar beramai-ramai oleh muridnya sendiri. Kasus ini menjadi alarm soal profesi pendidik makin rentan. Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, menyerukan agar RUU Perlindungan Guru tak lagi digantung.

“Karena itu yang paling penting kalau ada undang-undang perlindungan guru itu artinya menjaga kehormatan sekolah, menjaga kehormatan guru, siswa, orang tua tuh semua kepala sekolah dijaga. Dan termasuk dari hal-hal yang terkaitannya dengan bullying, segala macam,” kata Unifah kepada wartawan, Jumat (16/1/2026).

Unifah menilai insiden Agus membuka sisi lain dunia sekolah, guru tetap berpikir dewasa meski jadi korban. Guru, katanya, selalu melihat murid sebagai pihak yang perlu dilindungi.

Ia menekankan komunikasi sebagai kunci meredam konflik. “Sebaliknya anak-anak juga harusnya bisa menahan diri,” ujarnya.

PGRI, lanjut Unifah, akan mendampingi Agus dalam proses mediasi. Harapannya, publik khususnya orang tua murid, paham bahwa Agus tak punya niat menyakiti anak-anak didiknya.

“(Agus) dikeroyok tidak mempermasalahkan mereka ke ranah hukum. Karena dia tahu dia seorang pendidik. Dia pendidik dan anak-anak perlu bimbingan. Jadi guru itu dengan berlapang dada,” tambahnya.

Kronologi bermula Selasa (13/1/2026) saat jam pelajaran. Video pengeroyokan Agus viral, termasuk potongan rekaman ketika sang guru mengacungkan celurit saat mencoba membubarkan murid-murid.

Agus menceritakan, saat lewat di depan kelas ia mendengar makian dari muridnya. Ia lalu mendatangi kelas untuk mencari siapa pelaku ejekan.

“Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakkan saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhir saya refleks menampar muka dia,” ungkap Agus.

Agus mengaku tamparan itu bagian dari pendidikan moral. Namun murid tersebut balik marah hingga keributan makin membesar sebelum guru lain turun tangan.

Di sisi lain, sejumlah siswa menuduh Agus menghina murid dengan menyebut kata “miskin”. Tuduhan itu diyakini menjadi pemicu kericuhan.

Agus membantah melecehkan. Menurutnya, konteks ucapannya murni memotivasi.

“Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, ‘kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam’. Itu secara motivasi pembicaraan,” jelasnya.