Bagi para remaja yang sering begadang demi tugas sekolah atau aktivitas sosial, tidur lebih lama saat akhir pekan ternyata bukan sekadar kemalasan. Studi terbaru mengungkapkan bahwa kebiasaan ‘membayar utang tidur’ ini memiliki dampak signifikan bagi kesehatan mental, terutama dalam menekan risiko depresi.
Penelitian kolaboratif dari University of Oregon dan State University of New York Upstate Medical University menunjukkan bahwa tidur ekstra di hari libur bisa menjadi pelindung bagi mental remaja usia 16 hingga 24 tahun.
Risiko Depresi Turun Drastis
Berdasarkan data yang dipublikasikan dalam Journal of Affective Disorders, remaja yang mengganti waktu tidurnya di akhir pekan memiliki risiko gejala depresi 41 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tetap kurang tidur.
Mengutip Science Daily, Jumat (9/1/2026), para peneliti mencatat bahwa mayoritas remaja saat ini mengalami defisit tidur kronis selama hari sekolah. Tuntutan akademik yang tinggi, kegiatan ekstrakurikuler, hingga pekerjaan paruh waktu menjadi penyebab utama mereka gagal memenuhi target tidur ideal.
“Remaja dianjurkan tidur delapan hingga 10 jam setiap malam, tetapi target itu sering sulit dicapai,” ujar psikolog Melynda Casement dari University of Oregon.
Solusi atas Benturan Jam Biologis
Menurut Casement, tidur lebih lama di akhir pekan adalah mekanisme pertahanan yang efektif ketika kebutuhan tidur tidak terpenuhi pada hari kerja. Masalahnya, secara alami jam biologis remaja cenderung bergeser —membuat mereka ingin tidur lebih larut dan bangun lebih siang.
Kondisi alami ini sering kali bertabrakan dengan jam masuk sekolah yang terlalu pagi, sehingga remaja sangat rentan mengalami kurang tidur. Defisit tidur inilah yang kemudian memicu gangguan emosional.
Dampak Nyata bagi Produktivitas
Penelitian ini menggunakan data survei kesehatan nasional di Amerika Serikat periode 2021-2023. Hasilnya jelas: mereka yang merasa sedih atau tertekan setiap hari umumnya adalah mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk mengganti waktu tidurnya.
Casement mengingatkan bahwa depresi adalah penyebab utama gangguan fungsi sehari-hari pada kelompok usia produktif ini.
“Kondisi ini berdampak langsung pada kehadiran di sekolah, performa di tempat kerja, serta kemampuan menjalankan tanggung jawab harian,” tambahnya.
Meski tidur konsisten setiap malam tetap menjadi opsi terbaik, memberikan kelonggaran bagi remaja untuk tidur lebih lama di akhir pekan bisa menjadi langkah preventif yang sederhana namun sangat berarti bagi kesehatan jiwa mereka.












