Menurut laporan Forbes, Elon Musk menjadi orang pertama dalam sejarah yang kekayaannya melampaui US$700 miliar atau sekitar Rp12,53 kuadriliun. (Foto: The Guardian)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Perusahaan rintisan teknologi antarmuka otak–komputer Neuralink terus menunjukkan ambisi besarnya dalam pengembangan implan otak. Setelah beberapa tahun menjalankan uji klinis terbatas pada manusia, perusahaan milik Elon Musk itu kini bersiap memasuki fase produksi massal.
CEO Neuralink Elon Musk menyatakan perusahaan menargetkan mulai memproduksi implan antarmuka otak–komputer dalam jumlah besar pada tahun ini. Langkah tersebut menandai pergeseran penting dari fase riset menuju penerapan teknologi dalam skala lebih luas.
Informasi ini disampaikan Musk melalui unggahan di platform X dan dikutip oleh Indian Express, Minggu (4/1).
“Neuralink akan mulai produksi massal perangkat antarmuka otak–komputer dan beralih ke prosedur operasi yang lebih sederhana dan hampir sepenuhnya otomatis pada 2026,” tulis Musk dalam unggahannya pada 31 Desember 2025.
Selain peningkatan kapasitas produksi, Neuralink juga menyiapkan perubahan signifikan dalam prosedur bedah. Musk mengungkapkan bahwa implan generasi berikutnya dirancang untuk menembus dura mater tanpa perlu mengangkat lapisan pelindung terluar otak tersebut.
“Benang perangkat akan menembus dura tanpa perlu mengangkatnya. Ini adalah hal yang sangat besar,” lanjut Musk.
Dura mater merupakan lapisan pelindung otak yang kuat dan berfungsi mencegah infeksi serta cedera fisik. Dalam praktik bedah saraf konvensional, penanganan dura membutuhkan ketelitian tinggi. Jika teknologi Neuralink mampu menghindari pengangkatan lapisan ini, prosedur implan dinilai berpotensi menjadi lebih aman dan efisien.
Neuralink mengembangkan teknologi implan otak untuk membantu pasien dengan gangguan neurologis berat, termasuk cedera tulang belakang dan kelumpuhan. Melalui implan tersebut, sinyal dari korteks otak diterjemahkan menjadi perintah digital. Dengan teknologi ini, pasien dapat mengendalikan komputer, bermain gim video, menjelajah internet, hingga mengoperasikan perangkat elektronik tanpa gerakan fisik.
Pada November tahun lalu, Neuralink mengumumkan telah menanamkan chip otak kepada 12 pasien dengan kelumpuhan berat. Noland Arbaugh, pasien pertama yang menerima implan tersebut, mengaku teknologi ini mengubah cara dirinya berinteraksi dengan dunia digital.
“Saya bisa bermain Mario Kart, mengendalikan televisi, dan menggunakan komputer tanpa menggerakkan tubuh sama sekali,” ujar Arbaugh dalam wawancara sebelumnya.
Dalam unggahan terpisah, Musk juga menyampaikan optimisme bahwa teknologi Neuralink memiliki potensi lebih jauh dari sekadar alat bantu.
“Neuralink pada dasarnya dapat menjembatani komunikasi dari korteks otak, melewati bagian leher atau tulang belakang tempat saraf mengalami kerusakan,” kata Musk.
Teknologi Neuralink pertama kali diumumkan ke publik pada 2022. Chip otak yang dinamai N1 tersebut memiliki 1.024 elektroda yang terhubung ke otak melalui 64 benang fleksibel. Dengan target produksi massal dan otomatisasi prosedur bedah, Neuralink kini memasuki fase krusial dalam pengembangan teknologi antarmuka otak–komputer.














