Pesepak bola Timnas Indonesia Ole Romeny dalam pertandingan Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (25/3/2025). (Foto: Getty images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Penyerang Timnas Indonesia, Ole Romeny, akhirnya buka suara mengenai periode turbulensi yang melanda Skuad Garuda di penghujung tahun 2025. Dalam wawancara eksklusif dengan De Gelderlander, pemain yang kini merumput di Oxford United itu menumpahkan perasaannya terkait kegagalan Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026 dan pemecatan pelatih Patrick Kluivert.
Bagi Romeny, kegagalan menggenggam tiket ke turnamen sepak bola terbesar di dunia itu meninggalkan bekas luka yang mendalam.
“Jika saya mendengar seseorang berbicara tentang Piala Dunia sekarang, rasanya seperti ada tusukan di hati saya. Dan itu hanya akan menjadi lebih buruk sekarang karena turnamen itu semakin dekat,” ungkap Romeny dengan nada getir.
Pertaruhan Nyawa dan Cedera “Horor”
Perjalanan Romeny bersama Timnas Indonesia tahun ini penuh dengan pengorbanan fisik. Ia mengungkapkan sempat mengalami cedera parah saat pemusatan latihan di Indonesia akibat tekel keras yang disebutnya sebagai “death kick”.
“Tulang metatarsal saya patah: saya pernah mengalaminya sebelumnya, tapi kali ini saya harus naik meja operasi. Saya menjalani operasi di Amsterdam dan rehabilitasi di sana,” jelas eks pemain FC Utrecht tersebut.
Namun, dorongan nasionalisme membuatnya memaksakan diri. Targetnya adalah pulih pada bulan Oktober demi laga krusial kualifikasi. Latihan grup pertamanya pasca-cedera bahkan baru dilakukan di Arab Saudi, tepat sebelum laga hidup-mati.
“Saya sama sekali belum bugar untuk pertandingan melawan Arab Saudi dan Irak. Saya memainkan laga internasional itu terutama dengan hati saya. Berdasarkan perasaan, berdasarkan adrenalin,” akunya. Sayang, pengorbanan itu belum cukup membawa Garuda terbang ke Amerika Utara.
Membela Patrick Kluivert
Kekecewaan Romeny bertambah dengan kabar pemecatan Patrick Kluivert dari kursi kepelatihan Timnas Indonesia. Legenda sepak bola Belanda itu didepak menyusul tekanan besar akibat hasil yang tidak sesuai ekspektasi.
Romeny secara terbuka menyayangkan keputusan tersebut dan memuji kualitas Kluivert sebagai mentor.
“Sangat menyenangkan bekerja dengannya. Kluivert adalah pelatih yang mengerti saya,” ujar Romeny. “Dia pernah bermain di level teratas dan bisa memberikan tips terbaik hingga ke level detail. Saya masih merasakan dampak pemecatannya, tetapi tekanannya memang terlalu besar.”
Romeny menyadari bahwa menukangi Timnas Indonesia bukanlah pekerjaan mudah. “Melatih Indonesia, negara dengan lebih dari 280 juta penduduk, bukanlah pekerjaan yang sederhana,” tambahnya, merujuk pada ekspektasi masif suporter Tanah Air.
Koneksi Oxford dan Erick Thohir
Sejak Januari lalu, Romeny telah menukar kompetisi Belanda dengan Inggris. Ia bergabung dengan Oxford United, klub Divisi Championship yang dimiliki oleh Erick Thohir, sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PSSI.
Romeny mengenang masa pramusimnya bersama Oxford yang membawanya kembali ke tanah leluhur. “Bersama Oxford kami pergi ke Bandung di musim panas untuk pemusatan latihan dan kami juga pergi ke Bali. Begitulah cara saya bisa melihat semua sisi Indonesia: itu sangat menyenangkan,” tutupnya.
Kini, dengan Piala Dunia 2026 di depan mata tanpa kehadiran Indonesia, Romeny harus segera memulihkan mental dan fisiknya untuk fokus bersama Oxford United di kompetisi Inggris.














