Kisah Risky, Anak Nelayan yang Viral Kini Belajar Lagi di Sekolah Rakyat Medan

Ibnu Medium.jpeg

Minggu, 28 Desember 2025 – 14:18 WIB

Muhammad Risky Pratama (12) yang  sempat viral di media sosial karena berjualan ikan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari kini bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Sumatera Utara. (Foto: Biro Humas Kemensos/ Airlangga Jati)

Muhammad Risky Pratama (12) yang sempat viral di media sosial karena berjualan ikan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari kini bisa melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Sumatera Utara. (Foto: Biro Humas Kemensos/ Airlangga Jati)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Muhammad Risky Pratama (12) tak lagi mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil mengangkut sekitar 30 kilogram ikan di ember yang menggantung di setang. Aktivitas yang dulu menjadi rutinitasnya di kawasan pesisir Bagan Deli kini berganti dengan hari-hari sebagai siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, Sumatera Utara.

Risky sempat menjalani masa kanak-kanak yang berat. Ia mulai berjualan ikan saat masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar. Keterbatasan ekonomi memaksanya berhenti sekolah dan ikut bekerja demi membantu keluarga. Setiap hari sejak pukul 10.00 pagi, ia berkeliling menjajakan ikan selayang, kurin, trisi, hingga cumi dan udang.

“Bawanya pakai ember, ditaruh di setang sepeda,” kata Risky lirih saat ditemui di sekolahnya.

Anak sulung dari empat bersaudara ini tumbuh bersama kakek dan neneknya, yang ia panggil Atuk. Ibunya merantau ke Malaysia lalu ke Batam, sementara ayahnya bekerja sebagai nelayan di Pantai Labu. Pertemuan dengan kedua orang tuanya menjadi momen yang jarang ia rasakan.

“Dari saya kelas 4 SD mama pergi ke Batam. Belum ada balik. Waktu itu pernah telepon, tapi cuma sekali. Kalau ayah, kadang habis melaut singgah ke rumah nenek,” ujarnya dengan suara bergetar.

Sang kakek sehari-hari mencari kerang di laut. Dalam kondisi cuaca normal, hasil tangkapan sekitar 20 kilogram per hari, yang dijual ke tengkulak seharga Rp7 ribu per kilogram. Dari membantu berjualan ikan, Risky bisa memperoleh upah hingga Rp100 ribu sehari. Jika dagangan tak habis, ikan akan dikembalikan kepada pemiliknya.

Perjuangan Risky sempat terekam kamera warga dan viral di media sosial. Video dirinya bersepeda menawarkan ikan dari rumah ke rumah menuai simpati luas. Dari uluran tangan banyak orang, Risky menerima bantuan hingga sekitar Rp100 juta. Dana tersebut digunakan untuk menuntaskan pendidikan sekolah dasar dan membantu kebutuhan keluarga.

Namun, tantangan belum sepenuhnya usai. Meski lulus SD, kemampuan membaca dan berhitung Risky masih terbatas. Titik balik datang ketika ia diterima di Sekolah Rakyat, program pendidikan gratis yang digagas pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Di sekolah inilah Risky mulai menata ulang mimpinya.

“Di sini enak, senang. Sekarang sudah bisa lebih lancar membaca, meski masih ngeja sedikit,” katanya sambil tersenyum malu.

Risky bercita-cita menjadi tentara. Di lingkungan Sekolah Rakyat, ia tak lagi dibebani tuntutan mencari nafkah. Waktunya kini diisi dengan belajar, bergaul dengan teman sebaya, dan mengejar ketertinggalan akademik.

Kisah Risky mencerminkan potret anak-anak dari keluarga rentan yang selama ini berada di pinggiran akses pendidikan. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa kesempatan belajar yang tepat dapat menjadi jembatan bagi anak-anak seperti Risky untuk keluar dari lingkaran kemiskinan dan kembali merajut mimpi yang sempat terhenti.