Arsip foto, Nyai Hj. Sinta Nuriyah Wahid saat acara dialog kebangsaan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. (Foto: ANTARA/HO-Humas ITS)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Wacana memasukkan ulama perempuan ke dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) mengemuka menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Jaringan Nahdlatul Ulama Kultural (Janur) menilai forum yang memiliki kewenangan strategis dalam menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu perlu membuka ruang bagi ulama perempuan.
Penggerak Janur Aan Anshori menilai komposisi AHWA semestinya tidak semata-mata ditentukan berdasarkan jenis kelamin, tetapi berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, serta kemampuan menjaga kemaslahatan jam’iyah.
“AHWA semestinya diisi berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, dan kemampuan menjaga kemaslahatan jam’iyah,” kata Aan dalam keterangan tertulis di Jombang, dilansir ANTARA, Kamis (20/8/2026).
Aturan Perlu Dikaji
Aan menyoroti mekanisme AHWA yang digunakan sejak Muktamar Ke-35 NU. Menurut dia, seluruh anggota AHWA yang terpilih selama ini merupakan laki-laki, sementara tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit menyatakan anggota AHWA harus laki-laki.
Baginya, persoalan tersebut bukan sekadar mengenai keterwakilan perempuan. Lebih jauh, masuknya ulama perempuan dapat memperluas perspektif keulamaan dalam proses pengambilan keputusan tertinggi organisasi.
Aan menyebut sedikitnya dua ulama perempuan yang dinilai memiliki kualifikasi untuk duduk sebagai anggota AHWA, yakni Nyai Dr (HC) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid.
Sinta Nuriyah memiliki rekam jejak panjang dalam menyuarakan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan kehidupan beragama yang inklusif. Istri Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu juga pernah menjadi bagian dari kepengurusan Mustasyar PBNU dalam beberapa periode.
Sementara Machfudhoh Aly Ubaid dikenal melalui kiprahnya dalam pendidikan pesantren dan perjuangan NU. Putri Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah tersebut juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.
“Kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki sumber daya keulamaan perempuan yang tidak dapat dipandang sebagai pelengkap,” ujarnya.
Bukan Sekadar Representasi
Aan menegaskan pemberian ruang kepada ulama perempuan di AHWA bukan sekadar persoalan keterwakilan berdasarkan jenis kelamin. Menurutnya, langkah tersebut merupakan upaya memperluas perspektif keulamaan dalam menentukan arah organisasi.
“Sudah waktunya NU tidak hanya berbicara tentang pentingnya peran ulama perempuan, tetapi juga memberikan ruang nyata kepada mereka dalam forum strategis pengambilan keputusan organisasi, termasuk dalam sembilan anggota AHWA,” kata Aan.
PBNU akan menggelar Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Forum tersebut menjadi permusyawaratan tertinggi NU untuk membahas agenda organisasi, termasuk pemilihan pengurus baru.
Di tengah momentum itu, gagasan tentang keterlibatan ulama perempuan dalam AHWA berpotensi menjadi salah satu isu strategis yang turut mewarnai pembahasan mengenai masa depan tata kelola organisasi.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.









