Kementerian Keuangan mengambil langkah agresif untuk memompa urat nadi perekonomian nasional. Pemerintah memutuskan memperpanjang kebijakan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di perbankan hingga Juli 2027.
Langkah ini diyakini ampuh mendongkrak pertumbuhan kredit perbankan hingga menembus angka di atas 20 persen.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis, guyuran likuiditas pemerintah ke sistem perbankan mulai menunjukkan dampak nyata pada akselerasi penyaluran pinjaman ke sektor riil.
“Juli kemarin sudah 18,3 persen base money tumbuh. Itu cukup kalau ditahan terus ke depan, cukup menciptakan pertumbuhan kredit di atas 20 persen. Data terakhir kan kredit 13,8 persen kan. Meningkat dibanding sebelum-sebelumnya karena pengaruh likuiditas keuangan kita,” ujar Purbaya usai melakukan pertemuan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Injeksi Likuiditas Diperpanjang hingga Juli 2027
Guna memastikan pasokan likuiditas tetap tebal, Purbaya menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru menarik dana SAL dari perbankan. Injeksi dana segar ini dipastikan terus berlanjut hingga pertengahan tahun depan.
Dalam memantau ketahanan likuiditas sistem keuangan, mantan Bendahara Negara tersebut mengaku lebih condong mengacu pada pergerakan uang primer (base money atau M0) ketimbang rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK).
Menurut penjelasannya, base money pada Juli 2026 telah mencatatkan pertumbuhan 18,3 persen. Sementara pada Agustus 2026, laju pertumbuhannya diperkirakan masih bertahan solid di kisaran 18 persen.
“Base money (M0) biasanya selama ini cukup baik untuk menggambarkan keadaan likuiditas di sistem keuangan seluruhnya,” tutur Purbaya.
Perkuat Komando Bersama Bank Indonesia
Agar penempatan SAL tidak mengendap sia-sia di brankas bank, Kementerian Keuangan bakal memperketat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI). Sinergi dua otoritas ini penting agar ruang kucuran kredit ke sektor swasta makin lapang.
Purbaya menilai, koordinasi erat antara otoritas fiskal dan moneter adalah kunci utama untuk menciptakan ekosistem bisnis yang kondusif.
“Dengan koordinasi yang lebih baik antara keuangan dengan bank sentral, ruang bagi kita untuk menciptakan kondisi likuiditas yang bagus untuk perbankan terbuka lebar. Sektor swasta itu bisa tumbuh lebih baik dibanding tahun sebelumnya,” katanya.
Optimistis Ekonomi Tembus di Atas 6 Persen
Dengan dorongan likuiditas yang melimpah dan mesin perbankan yang makin rajin menyalurkan kredit, Purbaya percaya diri target pertumbuhan ekonomi nasional bakal terlampaui dengan mudah.
Bahkan, ia melempar sinyal optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sanggup melonjak signifikan melebihi patokan 6 persen.
“Itu, kalau pemerintah malas saja bisa tumbuh 6 persen ekonominya. Kan sekarang pemerintah rajin, jadi akan signifikan di atas 6 persen,” kelakar Purbaya menutup keterangannya.












