Ilustrasi. Keindahan alam saat Ramadan dan doa(Desain: Inilah.com/Flux)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Selain hubungan dengan Tuhan, manusia juga diwajibkan menjaga hubungan baik dengan sesamanya, Hablum minallah dan hablum minannas. Konsep ini merupakan pilar keseimbangan ajaran Islam yang dititahkan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan, baik di dunia maupun akhirat.
Selain itu, ada lagi titah Allah SWT yang tak kalah penting, yakni agar manusia menjaga hubungan dengan alam. Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menegaskan hal ini. Salah satu yang cukup jelas terdapat dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
Sebagai khalifah di atas bumi, tugas utama manusia adalah menjaga dan merawat planet ini beserta makhluk lain yang tinggal di dalamnya, termasuk hewan dan tumbuhan, bukan malah merusak dan mengeksploitasinya sesuka hati. Penegasan yang disampaikan Allah SWT dalam ayat ini makin relevan di zaman antroposen, ketika hampir tidak ada lagi sudut bumi yang belum tersentuh tangan manusia.
Berbagai bencana akibat perubahan iklim, mulai dari kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, hingga badai yang kian sering dan ganas, tidak terlepas dari campur tangan manusia. Pemakaian energi fosil yang kian masif serta alih fungsi lahan yang tak terkendali menjadi contoh nyata bagaimana aktivitas manusia merusak kondisi ekologis global.
Indonesia pun telah merasakan kedahsyatan dampaknya. Berbagai bencana hidrometeorologi, seperti banjir di Sumatera beberapa waktu lalu serta fenomena tanah bergerak di wilayah Tegal, Jawa Tengah, menjadi bukti bahwa manusia—baik sengaja maupun tidak—telah mengubah struktur ekologis di sekitarnya akibat eksploitasi lahan yang berlebihan.
Dahsyatnya bencana yang terjadi akhir-akhir ini seolah menampar kesadaran kemanusiaan kita, betapa rapuhnya manusia di hadapan kuasa alam yang juga merupakan ciptaan Tuhan.
Dalam konteks ini, ketergantungan kepada Sang Khalik tidak cukup diwujudkan hanya dalam ritual ibadah fisik seperti tadarus, tarawih, dan sebagainya. Ibadah juga harus tercermin dalam sikap cinta dan belas kasih terhadap sesama, termasuk seluruh makhluk hidup ciptaan-Nya.
Ramadan kali ini patut menjadi momentum bagi kita untuk merenungi kembali hubungan dengan alam. Mengerem segala bentuk hawa nafsu, termasuk nafsu merusak dan mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan. Ramadan menyelipkan pesan penting bahwa keyakinan teologis tidak hanya menumbuhkan semangat ibadah vertikal, tetapi juga menggerakkan solidaritas horizontal, baik antarsesama manusia maupun dengan makhluk hidup lainnya.
Sebagai khalifah, manusia ditugaskan menjaga bumi dan seisinya, bukan merusaknya. Selamat berpuasa.














