Pandai Mengukur, Tetapi Gagal Merawat

Kita hidup di negeri yang begitu percaya pada angka anggaran pendidikan hingga lupa menghitung jumlah anak yang tidak mampu membeli pensil. Tragedi bunuh diri seorang bocah sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, seolah menjadi ironi yang terlalu telanjang untuk diabaikan. Seorang anak berusia sepuluh tahun memilih mengakhiri hidup setelah keluarganya tidak mampu memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah yang seharusnya paling mendasar (inilah.com, 6 Februari 2026).

Peristiwa ini bahkan memicu imbauan bahwa kasus tersebut merupakan alarm keras bagi sistem perlindungan anak dan kebijakan pendidikan nasional, sekaligus membuka celah besar dalam pemerataan bantuan sosial dan pemenuhan kebutuhan belajar anak dari keluarga miskin. Negara yang konon menjamin hak pendidikan justru terlihat sibuk mendistribusikan program tanpa memastikan apakah buku tulis benar-benar sampai ke tangan yang membutuhkan.

Dalam tragedi ini, pendidikan tampak seperti janji besar yang berdiri megah di atas statistik, tetapi runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa sebagian anak masih harus bernegosiasi dengan kemiskinan hanya untuk dapat menulis huruf perdana dalam buku pelajaran mereka.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa emosi anak terbentuk melalui interaksi kompleks antara pengalaman sosial dan lingkungan sekitar. Anak memahami dunia melalui hubungan dengan orang lain dan cara lingkungan merespons kegagalan atau tekanan yang mereka alami (Tetzchner, 2023). Tatkala lingkungan hanya memahami keberhasilan, kegagalan menjadi pengalaman yang tidak memiliki bahasa. Anak belajar bahwa gagal berarti kehilangan nilai diri.

Sekolah modern menyukai konsep tanggung jawab individu. Anak diajarkan bahwa masa depan mereka bergantung pada usaha mereka sendiri. Ide ini terdengar berani. Namun dalam praktiknya, konsep ini menciptakan ilusi kebebasan. Anak diberi kebebasan untuk berhasil, tetapi tidak diberi ruang untuk gagal dengan aman.

Psikologi anak menjelaskan bahwa kemampuan regulasi emosi berkembang secara bertahap dan sangat bergantung pada dukungan lingkungan sosial. Anak membutuhkan orang dewasa untuk membantu mereka menafsirkan pengalaman emosional sebelum mampu mengelolanya secara mandiri (Tetzchner, 2023). Ketika sekolah dan keluarga menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada anak, kita sebenarnya menempatkan mereka dalam posisi yang musykil. Anak dipaksa menjadi manajer kinerja bagi dirinya sendiri sebelum memahami arti kegagalan.

Kita menyebutnya pendidikan karakter. Kita mengajarkan disiplin, ketekunan, dan daya juang. Kita lupa bahwa karakter tanpa dukungan emosional hanya menghasilkan individu yang pandai menekan perasaan sendiri. Dalam jangka panjang, tekanan yang tidak memiliki saluran ekspresi dapat berubah menjadi krisis psikologis.

Meritokrasi dan Kekerasan

Salah satu mitos terbesar pendidikan modern adalah meritokrasi. Kita percaya bahwa setiap anak memiliki peluang yang sama untuk sukses. Narasi ini menyenangkan karena memberikan rasa keadilan. Namun kenyataan sosial menunjukkan bahwa anak lahir dalam kondisi yang sangat berbeda.

Psikologi perkembangan menekankan bahwa kesejahteraan mental anak dipengaruhi oleh faktor sosial-ekonomi, relasi keluarga, serta dukungan komunitas. Faktor-faktor ini dapat menjadi pelindung atau justru sumber risiko bagi perkembangan emosional anak (Pote dkk., 2024). Di wilayah 3T, banyak faktor pelindung tersebut tidak tersedia secara memadai. Sekolah menjadi satu-satunya institusi yang diharapkan menopang seluruh kebutuhan anak.

Di sinilah meritokrasi berubah menjadi kekerasan simbolik. Anak dari wilayah marginal diminta memenuhi standar nasional yang dirancang berdasarkan pengalaman sosial yang berbeda. Mereka diperlakukan seolah memiliki modal sosial dan emosional yang sama dengan anak dari wilayah perkotaan. Tatkala mereka gagal, kegagalan itu ditafsirkan sebagai kelemahan pribadi. Sistem tidak pernah mengakui bahwa standar itu sendiri mungkin tidak adil.

Sistem pendidikan kita memiliki obsesi pada pengukuran. Segala sesuatu harus memiliki tolok ukur. Kesejahteraan siswa diterjemahkan menjadi survei kepuasan. Kreativitas diubah menjadi skor kompetisi. Bahkan kebahagiaan anak sering disederhanakan menjadi grafik statistik.

Psikologi anak menunjukkan bahwa kesejahteraan emosional tidak dapat direduksi menjadi indikator numerik. Relasi empatik antara guru dan siswa merupakan faktor penting dalam perkembangan mental anak. Hubungan interpersonal yang hangat mampu meningkatkan rasa aman psikologis dan mencegah gangguan emosional (Pote dkk., 2024).

Akan tetapi relasi semacam ini sulit diukur. Ia tidak dapat ditampilkan dalam laporan kinerja. Ia tidak menghasilkan grafik yang memuaskan birokrasi pendidikan. Akibatnya, relasi empatik sering diperlakukan sebagai pelengkap, bukan sebagai inti pendidikan. Sekolah berubah menjadi mesin produksi nilai, bukan ruang perawatan kemanusiaan.

Bunuh diri anak sering dipahami sebagai tragedi personal. Cara pandang ini membuat kita merasa aman. Jika tragedi hanya bersifat personal, maka sistem pendidikan tidak perlu berubah. Namun dari sudut pandang sosial, bunuh diri anak dapat dibaca sebagai kritik ekstrem terhadap struktur sosial yang gagal menyediakan ruang aman bagi perkembangan emosional.

Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa gangguan emosional muncul ketika terdapat ketidakseimbangan antara tekanan lingkungan dan kapasitas adaptasi individu. Anak yang tidak memiliki dukungan sosial memadai memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi dan perilaku merusak diri (Tetzchner, 2023). Dalam konteks ini, bunuh diri bukan sekadar tindakan individu, melainkan ekspresi dari kegagalan kolektif.

Ironinya, tragedi seperti ini sering memicu kampanye motivasi. Anak diajak untuk lebih kuat. Guru diminta lebih disiplin. Orangtua disarankan lebih mengawasi. Sistem pendidikan tetap utuh. Kita mengobati gejala sambil mempertahankan struktur yang memproduksi gejala tersebut.

Pabrik Kepatuhan Emosional

Sekolah modern sering mempromosikan ketertiban sebagai nilai utama. Anak yang patuh dianggap sukses secara moral. Anak yang mempertanyakan aturan sering dianggap bermasalah. Dalam praktiknya, sekolah tidak hanya mengatur perilaku, tetapi juga mengatur emosi. Anak diajarkan kapan harus senang, kapan harus malu, dan kapan harus diam.

Psikologi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi membutuhkan ruang ekspresi yang aman. Anak yang mampu mengekspresikan perasaan secara terbuka memiliki kemampuan adaptasi sosial yang lebih baik (Tetzchner, 2023). Tatkala sekolah menekan ekspresi emosional, sekolah berpotensi menciptakan generasi yang terampil menyesuaikan diri secara sosial tetapi rapuh secara psikologis.

Tragedi bunuh diri anak dapat dibaca sebagai ironi besar. Anak yang terlalu patuh terhadap tekanan sosial kehilangan kemampuan untuk menolak tekanan tersebut. Kepatuhan yang dipuji berubah menjadi jebakan eksistensial.

Arkian, tragedi di Nusa Tenggara Timur seharusnya menjadi momen refleksi radikal. Pendidikan tidak dapat terus bergerak dalam logika produksi prestasi semata. Pendidikan harus kembali menjadi ruang yang mendengarkan suara anak. Kesejahteraan emosional harus menjadi indikator utama keberhasilan sekolah.

Penelitian menunjukkan bahwa intervensi kesehatan mental berbasis sekolah mampu mengurangi risiko gangguan psikologis pada anak. Program deteksi dini, pelatihan guru, serta layanan konseling terbukti meningkatkan ketahanan emosional siswa (Pote dkk., 2024). Investasi pada kesehatan mental bukan pengeluaran tambahan, melainkan fondasi bagi pembangunan manusia.

Masa kanak-kanak bukan proyek produktivitas. Ia adalah fase kehidupan yang membutuhkan perlindungan sosial. Ketika pendidikan gagal melindungi fase tersebut, pendidikan kehilangan legitimasi moralnya.

Cermin Peradaban

Cara sebuah bangsa memperlakukan anaknya mencerminkan cara bangsa itu memahami masa depan. Tragedi bunuh diri anak bukan hanya kegagalan keluarga atau sekolah, melainkan kegagalan peradaban dalam menciptakan ruang hidup yang manusiawi bagi generasi muda.

Psikologi perkembangan menegaskan bahwa anak berkembang secara optimal ketika mereka tumbuh dalam lingkungan yang menyediakan rasa aman, dukungan emosional, dan relasi sosial yang sehat. Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang melandasi fondasi tersebut.

Jika pendidikan hanya mengajarkan cara mencapai keberhasilan tanpa mengajarkan cara menghadapi kegagalan, maka pendidikan sebenarnya sedang menciptakan generasi yang terlatih untuk berprestasi tetapi tidak siap untuk hidup.