Dr. Khoe Yanti Kusmiran dari Yanti Aesthetic Clinic dalam kegiatan 2nd Anniversary dr. Yanti Stem Cells di Artotel Mangkuluhur, Jakarta Pusat, Minggu (14/6/2026). (Foto: Inilah.com/Vonita).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Dr. Khoe Yanti Kusmiran dari Yanti Aesthetic Clinic mengatakan terapi stem cell disebut bekerja dengan pendekatan regeneratif yang berfokus pada perbaikan sel, jaringan, dan organ yang mengalami kerusakan. Menurutnya, pendekatan tersebut ditujukan untuk memperbaiki organ yang menjadi sumber masalah kesehatan.
“Karena yang kita obati itu kan bukan gejalanya, simtomnya. Jadi kita mengobati itu langsung ke jaringan organnya,” kata Yanti kepada wartawan dalam acara 2nd Anniversary dr. Yanti Stem Cells di Artotel Mangkuluhur, Jakarta Pusat, Minggu (14/6/2026).
Yanti menjelaskan konsep tersebut sejalan dengan teknologi biohacking. Di mana, konsep tersebut bertujuan membantu pemenuhan nutrisi pada sel dan organ yang mengalami kerusakan.
“Jadi kita berbicara mengenai biohacking, itu teknologi di bidang biotechnology juga di mana kita memberikan nutrisi ya kepada setiap sel, jaringan, atau organ yang mengalami kerusakan,” ujarnya.
Yanti menilai kerusakan pada pembuluh darah dapat menghambat distribusi nutrisi ke berbagai organ tubuh. Kondisi tersebut kemudian berdampak pada fungsi organ yang bersangkutan.
“Ya mau enggak mau kita kasih nutrisi, kita nutrisikan lagi organ-organ yang memang mengalami haus makannya, nutrisi. Akhirnya organnya membaik, sehat, mbali normal,” ucapnya.
Yanti kemudian mencontohkan penerapan terapi stem cell pada pasien diabetes. Dalam kasus tersebut, pankreas menjadi salah satu organ yang menjadi fokus penanganan karena berperan dalam produksi insulin.
“Pankreasnya diterapi. Diterapi iya dengan stem cell. Jadi ketika dimasukkan stem cell ke intra organ pankreasnya akhirnya menjadi regenerasi, sel-sel yang dulu rusak yang sudah mati diregenerasi lagi,” jelasnya.
Yanti menyebut perbaikan kondisi pankreas diyakini dapat membantu mengembalikan fungsi produksi insulin.
“Akhirnya pankreasnya membaik otomatis insulinnya produksi,” ucapnya.
Lebih lanjut, Yanti mengungkap lama terapi berbeda pada setiap pasien tergantung tingkat kerusakan organ dan ada tidaknya komplikasi penyakit. Diakuinya, pasien dengan komplikasi pada organ lain umumnya memerlukan waktu penanganan yang lebih panjang dibandingkan pasien tanpa komplikasi.
“Rata-rata perbaikan itu satu bulan sampai tiga bulan, ada yang juga setahun baru membaik. Tergantung kerusakannya kronis, akut, atau ada komplikasinya,” tuturnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













