Sekitar 16 tahun lalu, sebuah ruang tamu sederhana menjadi saksi lahirnya mimpi besar seorang anak manusia. Di depan layar televisi tabung yang sesekali bersemut, seorang bocah laki-laki berdiri terpaku. Matanya tidak berkedip sedetik pun.
Ia sama sekali tidak peduli ketika seisi rumah berteriak histeris merayakan gol Cristian Gonzales atau aksi menawan Bambang Pamungkas. Fokusnya hanya tertuju pada satu titik: seorang pria berkepala pelontos dengan sarung tangan dan warna pakaian kontras, yang berdiri sendirian di garis paling belakang lapangan.
Pria itu adalah Markus Horison, kiper legendaris Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2010. Setiap kali Markus terbang menepis bola, si bocah akan melompat kegirangan. Sebaliknya, jika jala gawang Garuda kebobolan, ia bisa termenung seharian, menahan air mata yang hampir tumpah.
Bocah kecil itu kini telah tumbuh dewasa. Namanya Cahya Supriadi. Pemuda berusia 23 tahun jebolan Persija Jakarta yang kini mengawal mistar PSIM Yogyakarta tersebut, kini memikul tanggung jawab yang sama dengan idolanya. Ia telah bertransformasi menjadi salah satu tulang punggung Timnas Indonesia di sektor penjaga gawang.
“Mungkin memang pengalaman paling berkesan itu pada 2010 di Piala AFF. Waktu itu kipernya Markus Horison kalau tidak salah,” kenang Cahya saat berbincang santai baru-baru ini.
Baju Polkadot Abu-Abu yang tak Pernah Terbeli
Saking mengidolakan sosok Markus, Cahya kecil sempat merengek kepada ibunya. Layaknya anak-anak pada masanya, ia ingin sekali mengenakan jersey kiper Timnas Indonesia edisi 2010 yang sangat ikonik saat itu—berwarna dasar hitam dengan aksen polkadot abu-abu di bagian lengan.
Namun, kondisi ekonomi dan situasi saat itu membuat keinginan sederhana si bocah urung terkabul. Permintaannya menguap begitu saja. Bahkan, ketika kini dirinya sudah menjadi pesepak bola profesional, seragam lengan panjang yang sangat ia idamkan itu tetap tidak pernah ada di dalam lemarinya.
“Terus, saya pengin banget kebeli baju tim nasional kiper, kalau enggak salah yang polkadot abu-abu. Terus sampai sekarang enggak kesampaian,” tutur Cahya sembari tersenyum mengenang masa lalunya.
Menariknya, Cahya kecil tidak lantas larut dalam kekecewaan. Ia juga tidak berniat mengambil jalan pintas dengan menggunakan spidol hitam untuk mencoret-coret kaus oblongnya agar mirip baju Markus Horison. Cahya memilih jalur lain: ia membeli mimpinya dengan cucuran keringat di lapangan hijau.
Waktu membuktikan bahwa kerja keras tidak pernah berkhianat. Bocah yang dulu hanya bisa menatap seragam Garuda dari balik layar kaca, kini berhak mengenakan seragam tersebut dengan namanya sendiri tertera di bagian belakang. Bukan lagi kain jadul bermotif polkadot, melainkan jersey resmi Timnas Indonesia dengan lambang Garuda asli di dada.
“Jadi, Alhamdulillah sekarang bisa pakai jersey Timnas. Kayak mewujudkan mimpi bahwa dulu pengin beli, tapi sekarang justru bisa menggunakan jersey-nya langsung,” ucapnya penuh syukur.
Memburu Sejarah Baru di Piala AFF 2026
Bagi Cahya, romantisme masa lalu sudah selesai di titik ia berhasil menembus skuad utama Merah Putih. Kini, saatnya ia menulis sejarahnya sendiri. Setelah melakoni debut di level senior pada Piala AFF 2024 lalu, penjaga gawang berpostur 179 cm ini bersiap kembali menjadi benteng terakhir Indonesia di ajang Piala AFF 2026.
Pengalaman pahit pada edisi 2024, di mana Indonesia yang saat itu didominasi pemain U-23 harus tersingkir lebih awal di Grup B setelah menjajal kekuatan Myanmar, Laos, Vietnam, dan Filipina, menjadi pelajaran yang sangat berharga.
“Situasinya tentu berbeda dibanding 2024. Saat itu mayoritas pemain masih U-23. Kami kalah 1-0 dari Vietnam di kandang mereka dan merasakan bagaimana tekanan bermain di level senior,” ungkap kiper yang mencatatkan 36 penampilan impresif sepanjang musim lalu itu.
Kini, dengan kematangan mental yang lebih baik, Cahya dan kolega datang dengan satu misi besar: menghapus kutukan spesialis runner-up. Sejak turnamen ini pertama kali digulirkan pada tahun 1996 di Singapura, Indonesia tercatat sudah enam kali menembus babak final, namun semuanya berakhir dengan kedukaan.
Pada partisipasi yang ke-16 ini, Timnas Indonesia tidak lagi ingin bermain-main dengan target. “Target kami adalah meraih gelar juara untuk pertama kalinya bagi Indonesia,” tegas Cahya penuh optimisme.
Dari balik mistar gawang, bocah pengagum Markus Horison itu kini siap membuktikan bahwa mimpi yang dirawat sejak masa kecil, bisa menjadi bahan bakar utama untuk mengantarkan Garuda terbang ke panggung tertinggi Asia Tenggara.













