Kasus Pajak TPL Jalan di Tempat, Kejagung tak Kunjung Periksa Sukanto Tanoto yang Punya Mal Mewah di Singapura

Iwan Medium.jpeg

Minggu, 30 Agustus 2026 – 04:09 WIB

Sukanto Tanoto saat berbicara di Boao Forum (Foto: RGE)

Sukanto Tanoto saat berbicara di Boao Forum (Foto: RGE)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kasus dugaan korupsi pajak bermodus transfer pricing PT Toba Pulp Lestari Tbk (TPL), seolah jalan di tempat. Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) hanya menetapkan dua tersangka dari internal Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Praktisi hukum Nicholay Aprilindo mengatakan, penyidik Kejagung seharusnya memeriksa pengusaha Sukanto Tanoto yang punya benang merah dengan dugaan korupsi pajak dari emiten bersandi INRU itu.

“Pemilik perusahaan juga harus ikut mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum,” ungkap Nicholay yang juga mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Instrumen dan Penguatan HAM Kementerian HAM itu, dikutip Sabtu (29/8/2026).

Selanjutnya dia mengutip teori condicio sine qua non, atau teori ekuivalensi (syarat) yang digagas hakim asal Jerman, Max von Buri, pada tahun 1873. Dalam ajaran hukum pidana itu, setiap syarat yang memicu terjadinya suatu akibat, dianggap sebagai faktor yang setara.

“Apabila suatu akibat mustahil terjadi tanpa adanya tindakan tersebut, maka tindakan itu adalah penyebab utamanya. Tidak ada pembedaan antara syarat dan sebab dalam teori tersebut,” tuturnya.

Dia pun menyoroti peran Sukanto Tanoto yang mengempit 27,7 persen saham INRU. “Sukanto Tanoto layak diperiksa atas dugaan manipulasi pajak ini,” ungkapnya, seraya mengingatkan bahwa penetapan tanggung jawab pidana wajib berlandaskan alat bukti yang kuat dari hasil penyidikan.

Sebelumnya, Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Saiful Bahri menyebut 2 tersangka dugaan korupsi pajak, berinisial BP dan SR yang berperan sebagai supervisor pemeriksaan pajak PT TPL.

“Keduanya adalah penyelenggara negara, ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi transfer pricing PT TPL tahun 2008 sampai dengan 2025,” ungkap Saiful di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Dalam penyidikan, Kejagung menemukan dugaan bahwa sejak 2008 PT TPL melakukan ekspor produk bubur kertas (pulp) kepada perusahaan afiliasinya melalui praktik under-invoicing yang merugikan negara Rp2 triliun.

Beli Mal Mewah di Singapura

Pada 2022, Sukanto Tanoto melakukan gebrakan dengan membeli pusat perbelanjaan megah, Tanglin Shopping Centre atau Tanglin Mall di Singapura, seharga 868 juta dolar Singapura, setara Rp9,5 triliun.

Tanglin Shopping Centre atau Tanglin Mall, pusat perbelanjaan megah di kawasan Orchard Road Singapura yang dibeli Pacific Eagle Real Estate milik Sukanto Tanoto pada 2022. (Foto: Shutterstock).

Dikutip dari The Straits Times, letak mal mewah milik Sukanto Tanoto itu, cukup strategis, yakni di kawasan Orchard Road, Singapura.

Sukanto Tanoto dikabarkan membayar Tanglin senilai 40 juta dolar Singapura, di atas harga awal, atau sekitar 10 persen dari angka penjualan 785 juta dolar Singapura.

Sejatinya, Tanglin Shopping Centre telah mengalami proses jual sebanyak 3 kali, yakni pada 2007, 2011 dan 2017. Namun, selalu saja kandas.

Tanglin Shopping Centre ini, merupakan kompleks perbelanjaan dengan 12 lantai. Memiliki 2 ruang bawah tanah atau rubanah serta 8 lantai khusus parkir.

Kompleks utama Tanglin Shopping Centre ini, selesai dibangun pada 1970 dan mengalami perluasan pada 1980. Luas arealnya mencapai 68.512 meter persegi, dan 60 persennya digunakan untuk kegiatan komersial. Sisanya yang 40 persen, digunakan untuk hunian dan hotel.

Pusat Perbelanjaan Tanglin merupakan salah satu landmark ritel paling awal di Singapura, dan lokasinya berada di sebelah St Regis Hotel di kawasan Orchard Road. Proses pembelian mal tertua ini, lewat Pacific Eagle Real Estate, pengembang properti berbasis di Singapura yang juga milik Sukanto Tanoto.

Aset Jumbo Kerajaan Bisnis Sukanto Tanoto

Saat ini, Sukanto Tanoto berstatus sebagai pendiri sekaligus Chairman Royal Golden Eagle (RGE). Sebuah perusahaan manufaktur berbasis sumber daya alam (SDA) global yang membuka kantor di sejumlah negara. Tersebar mulai Jakarta, Singapura, Hong Kong, Beijing hingga Nanjing.

Soal aset yang dikempit RGE, tak perlu disangsikan lagi besarnya. Yang jelas tidak kurang dari US$20 miliar. Dengan asumsi kurs Rp17.500/US$ saja, aset RGE setara Rp350 triliun.

Jumlah karyawannya diprediksikan mencapai 60.000 orang, tersebar mulai di China, Indonesia, Brasil, serta belahan dunia lainnya.

Bisnis utama RGE terbagi dalam empat bidang, yakni pulp dan kertas (APRIL/Asia Pacific Resources International Holding Ltd dan Asia Symbol), minyak sawit (Asian Agri dan Apical), rayon dan bubur kertas khusus (Sateri International dan APR), serta energi (Pacific Oil & Gas).

Selain menjadi pemilik RGE, Sukanto Tanoto merupakan anggota Dewan Internasional INSEAD, Dewan Pengawas Wharton dan Dewan Eksekutif Wharton Asia.

Daftar Orang Terkaya di Indonesia

Pada 2006, Sukanto Tanoto ditetapkan sebagai orang paling tajir se-Indonesia versi Majalah Forbes. Di mana, RGE menjadi mesin uang utama yang membuat aset Sukanto Tanoto melejit menjadi US$24,3 miliar.

Keluarga Sukanto Tanoto (Foto: Tanoto Foundation).

Sekitar 16 tahun kemudian, pria kelahiran Belawan, Medan pada 25 Desember 1949 itu, masih bercokol di daftar 50 orang terkaya di Indonesia . Tepatnya di ranking 18. Setahun kemudian, pria beranak 4 orang itu, menempati posisi 982 orang terkaya di dunia.

Asal tahu saja, Sukanto Tanoto merupakan keturunan keluarga asal kota Putian, Provinsi Fujian, China. Sebagai putra sulung dari 7 bersaudara, dia menjadi tulang punggung keluarga sejak 1960-an.

Mengutip laman Tanoto Foundation yang didirikan 1981, Sukanto Tanoto memulai bisnis pertama, sejak 1967. Saat itu, dia mendirikan toko suku cadang bernama Toko Motor. Usahanya terus berkembang dan merambah industri minyak dan konstruksi.

Masih di tahun yang sama, Sukanto Tanoto membangun usaha kayu lapis dan industri lain yang berbasis sumber daya alam (SDA). Mulai dari kelapa sawit, sektor kehutanan, bubur kertas (pulp), kertas serta pembangkit listrik.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang