Film Pendek Musikal “Di Bawah Langit Timur” Hadirkan Kisah Cinta Tanah Air dari Pedalaman Papua

artwork-rana.png

Minggu, 16 Agustus 2026 – 16:40 WIB

Salah satu cuplikan film pendek musikal “Di Bawah Langit Timur” dipersembahkan untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.(Foto: YT/Ulta Ultimatum)

Salah satu cuplikan film pendek musikal “Di Bawah Langit Timur” dipersembahkan untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.(Foto: YT/Ulta Ultimatum)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Film pendek musikal “Di Bawah Langit Timur” dipersembahkan untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, menghadirkan perspektif berbeda tentang nasionalisme dari pedalaman Papua melalui perjalanan seorang anak Bumi Cenderawasih menuju upacara bendera.

Disutradarai Abet Fahmi, film yang mengambil latar Distrik Wamena, Papua Selatan, mengikuti perjalanan Libo, anak Papua dari pedalaman. 

Abet mengatakan Papua sengaja dipilih untuk memperluas cara pandang tentang Indonesia dan kemerdekaan.

“Saya pilih Papua karena ingin menunjukkan bahwa Indonesia itu seluas cerita yang kita punya. Papua bukan cuma soal tempat yang indah, tapi soal manusia dan cerita di sana yang layak didengar. Apalagi film ini hadir di momen kemerdekaan. Buat saya, kemerdekaan itu harus dirasakan sebagai milik semua orang, dari Sabang sampai Merauke,” katanya di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Kisah tersebut menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang perjuangan, harapan, persatuan, dan kecintaan terhadap Indonesia dari perspektif Timur.

Yang membuat karya ini menarik bukan semata latar Papua, tetapi pilihan untuk menjadikan masyarakat dan pemeran lokal sebagai bagian utama cerita. 

“Film ini berusaha menunjukkan bahwa persatuan Indonesia tidak harus berarti menyeragamkan identitas daerah, melainkan membangun rumah bersama dari keberagaman yang nyata,” ujar Abet.

Karena itu, lanjut dia, Papua tidak diposisikan sekadar sebagai latar visual. Kehidupan masyarakat, karakter, dan pengalaman lokal menjadi elemen penting untuk menghadirkan wajah Indonesia yang selama ini relatif jarang mendapat ruang dalam cerita arus utama.

Pilih Anak Papua Asli

Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam proses casting. Abet memilih pemeran utama dari anak Papua yang memang tinggal di Papua. Popularitas di media sosial tidak menjadi ukuran utama.

“Saat saya bikin cerita ini, saya tidak mengenal mereka, saya mau yang memerankan ini anak Papua asli dan memang tinggal di sana, karena saya mengejar sesuatu yang organik, saya memilih Libo bukan karena Libo berasal dari media sosial, tapi karena saya melihat ada karakter yang sesuai dengan yang kami cari di cerita ini,” ujar Abet.

Pilihan itu sekaligus menjadi upaya menjaga kejujuran karakter. Para pemeran memang menghadapi tantangan karena sebagian terbiasa membuat konten, bukan memainkan karakter dalam film.

“Tantangannya tentu mengubah kebiasaan membuat konten menjadi bermain sebagai karakter. Di film kita nggak bisa sekadar menjadi diri sendiri. Tapi justru kejujuran dan sesuatu yang natural dari mereka itu yang ingin saya pertahankan,” tambahnya.

Nasionalisme tanpa Seragam

Pesan utama film kemudian berkembang pada gagasan bahwa Indonesia dapat menjadi satu tanpa menghapus identitas setiap daerah.

Abet berharap penonton melihat Indonesia sebagai rumah bersama yang dibangun dari banyak budaya, bahasa, tradisi, dan pengalaman.

“Saya berharap kita bisa semakin melihat Indonesia sebagai satu kesatuan tanpa merasa harus menjadi sama. Kita boleh berbeda, punya cerita dan budaya masing-masing, tapi tetap punya rumah yang sama,” katanya.

Musik Merajut Nusantara

Pesan kebangsaan itu diperkuat melalui original soundtrack “Fajar Indonesia” karya Penata Lagu Sastro Adi. Musik tersebut berangkat dari Mantra Mukaddimah Fajar Indonesia.

Matahari su terbit, Nafasku su disucikan, Cinta per tanah airku, Sa rela jalan sampai tujuan,” demikian salah satu lirik “Fajar Indonesia”.

Liriknya juga merangkum berbagai falsafah Nusantara, mulai dari nilai Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge dari Bugis-Makassar, Sipamandar dan Siamasei dari Mandar, hingga Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata dari Dayak.

Nilai Baiman, Baadab, Bauntung, Batuah dari Banjar, Memayu Hayuning Bawana dari Jawa, Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh dari Sunda, Dima bumi dipijak, di siko langik dijunjuang dari Minangkabau, serta Dalihan Na Tolu dari Batak turut dirangkai dalam pesan musikal tersebut.

Bagi Sastro, nasionalisme pada akhirnya bukan tuntutan kepada negara, melainkan kesadaran pribadi untuk mengabdi.

“Saya tidak pernah berharap apapun kepada Indonesia, justru saya berharap kepada diri saya agar senantiasa diberikan kesadaran bahwa mencintai Indonesia adalah tujuan saya dilahirkan. Demikian titik dan tidak pakai koma,” ujarnya.

Executive Producer Ulta Levenia menyebut film tersebut dirancang sebagai persembahan kreatif untuk HUT ke-81 RI. 

“Cerita, visual Papua, dan musik dipadukan untuk memperlihatkan bahwa kisah Indonesia juga tumbuh dari pedalaman,” pungkasnya.

Film Pendek Musikal “Di Bawah Langit Timur” dapat diakses melalui link kanal YouTube Ulta Ultimatum dan Bintang.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang