Riset bioteknologi Indonesia dinilai perlu didorong keluar dari laboratorium agar dapat berkembang menjadi produk yang memberi manfaat bagi masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah menjadi salah satu kunci untuk mempercepat proses tersebut.
Director of Corporate Relation & Strategic Affairs PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana), Andreas Donny Prakasa, mengatakan tantangan terbesar dalam hilirisasi riset adalah menjembatani hasil penelitian di laboratorium dengan kesiapan teknologi untuk diproduksi secara komersial.
Hal tersebut disampaikan Donny dalam Workshop Kelompok Produk dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Inovasi Tahun 2026 di Universitas Indonesia (UI), Depok, Kamis (27/8/2026).
Jembatani Riset dan Industri
Di hadapan akademisi, peneliti, pelaku industri, dan regulator, Donny menyoroti fenomena valley of death, yakni kesenjangan antara keberhasilan riset di laboratorium dan kesiapan teknologi untuk masuk ke tahap produksi komersial.
Menurut dia, proses membawa hasil riset menuju produk tidak berlangsung singkat. Tahapannya mencakup scale-up, validasi, pemenuhan standar Good Manufacturing Practice (GMP), uji praklinis dan klinis, hingga pemenuhan aspek regulasi serta kesiapan pasar.
“Industri perlu dilibatkan sejak tahap awal penelitian agar kebutuhan pasar, skala produksi, regulasi, dan keekonomian ikut dipertimbangkan. Di sinilah teaching factory berperan strategis, sebagai tempat hasil riset dipersiapkan naik kelas dari skala laboratorium menuju standar industri,” ujar Donny.
Ia menilai penguatan teaching factory dan fasilitas laboratorium di perguruan tinggi perlu diselaraskan dengan pemetaan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) atau Technology Readiness Level (TRL).
Pemetaan tersebut penting agar peneliti dan pemangku kepentingan memiliki gambaran yang jelas mengenai posisi teknologi sekaligus menentukan tahapan pengembangan berikutnya hingga menjadi produk inovasi.
Kandidat Vaksin Dengue Berbasis mRNA
Salah satu hasil kolaborasi lintas sektor yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut adalah prototipe vaksin dengue tetravalen berbasis teknologi messenger RNA (mRNA).
Riset tersebut melibatkan Universitas Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Etana, dan Tsinghua University.
Perwakilan tim peneliti vaksin dengue UI, Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, mengatakan kandidat vaksin tersebut dirancang dengan mempertimbangkan keragaman strain dengue yang beredar di Indonesia.
Pengembangan dilakukan terhadap empat serotipe virus dengue, yakni DENV-1 hingga DENV-4, dengan memanfaatkan analisis mutasi in silico dan pendekatan kecerdasan buatan.
“Pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan Indonesia, dengan memanfaatkan keragaman strain dengue yang beredar di dalam negeri,” ujar Beti.
Berdasarkan hasil pengujian awal yang dipaparkan, kandidat vaksin menunjukkan aktivitas netralisasi terhadap keempat serotipe dengue. Sejumlah konstruksi vaksin juga dilaporkan menunjukkan hasil lebih tinggi dibandingkan wild type maupun vaksin pembanding komersial Dengvaxia.
Hasil tersebut masih merupakan bagian dari tahapan penelitian dan pengembangan sehingga diperlukan proses pengujian dan pemenuhan persyaratan lebih lanjut sebelum suatu kandidat vaksin dapat dikembangkan menjadi produk yang digunakan secara luas.
BPOM Siapkan Pendampingan Regulasi
Dari sisi regulasi, perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jeffeta Pradeko Putra, memaparkan inisiatif GROW BPOM atau Green Research and Opportunities With BPOM.
Program tersebut dirancang untuk memberikan pendampingan kepada peneliti dalam proses pengembangan produk, termasuk aspek regulasi, produksi, hingga registrasi produk hasil riset.
“BPOM berkomitmen mendampingi hilirisasi riset sejak dini. Lewat kolaborasi akademisi, bisnis, dan pemerintah, kami memfasilitasi pendampingan regulasi hingga izin edar agar produk inovasi peneliti Indonesia memenuhi standar keamanan dan mutu, sekaligus siap memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Jeffeta.
Dorong Kolaborasi Pentahelix
Etana menilai pengembangan produk biofarmasi dan teknologi kesehatan membutuhkan kolaborasi yang lebih luas karena memiliki siklus riset dan regulasi yang panjang.
Karena itu, pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, industri, pemerintah, masyarakat, dan media dinilai diperlukan untuk membangun ekosistem hilirisasi riset.
Melalui Workshop Kelompok Produk 2026 yang berlangsung pada 27-28 Agustus 2026, Etana bersama UI dan BPOM mendorong sejumlah langkah untuk memperkuat ekosistem hilirisasi nasional.
Langkah tersebut mencakup pemetaan TKT/TRL sejak tahap awal penelitian, integrasi pendanaan dari riset hingga komersialisasi, pelibatan industri dalam evaluasi riset, serta pembentukan forum rutin yang mempertemukan peneliti, pelaku industri, dan regulator.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkecil kesenjangan antara riset dan kebutuhan industri sehingga inovasi yang lahir dari perguruan tinggi tidak berhenti sebagai prototipe atau publikasi ilmiah, tetapi dapat berkembang menjadi produk yang memenuhi standar industri dan memberi manfaat bagi masyarakat.









