Peta kekuatan sepak bola Italia benar-benar sedang diguncang oleh sebuah kekuatan baru dari tepi Danau Como. Bukan lagi sekadar tim promosi yang numpang lewat, Como 1907 kini sah menancapkan statusnya sebagai raksasa baru Serie A. Korban terbarunya pun tidak main-main: AS Roma.
Dalam laga yang berlangsung di Stadion Giuseppe Sinigaglia pada Senin (16/3/2026) dini hari WIB, skuad asuhan Cesc Fabregas sukses menjinakkan Serigala Ibu Kota dengan skor tipis 2-1. Kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin biasa; ini adalah proklamasi transformasi total klub milik Grup Djarum tersebut.
Tambahan poin penuh ini melambungkan Nico Paz Cs ke peringkat keempat klasemen sementara dengan raihan 54 poin dari 29 laga. Yang lebih prestisius, Como berhasil mendepak raksasa tradisional Juventus dari zona Liga Champions dengan keunggulan satu angka. Sebuah pencapaian yang mungkin dianggap mimpi di siang bolong bagi para pendukungnya dua tahun lalu.
Mentalitas ‘Bukan Paksaan’ ala Fabregas
Keberhasilan Como menggusur kemapanan tim-tim besar seperti Juventus dan Lazio, serta menahan imbang AC Milan, memancing rasa penasaran publik. Apa sebenarnya rahasia di balik performa eksplosif tim ini?
Cesc Fabregas, sang allenatore muda asal Spanyol, akhirnya angkat bicara. Baginya, kunci utama bukan hanya soal taktik di atas kertas, melainkan pembangunan karakter di ruang ganti.
“Saat Anda membangun sebuah tim, Anda sedang menanamkan sebuah visi. Anda harus mempelajari para pemain, karakter mereka, dan identitas mereka secara mendalam,” ujar Fabregas kepada Tuttomercatoweb.
Mantan dirigen lapangan tengah Barcelona dan Arsenal ini menekankan bahwa proses adaptasi menghadapi tekanan liga seketat Serie A menuntut ketangguhan mental yang luar biasa. Fabregas tidak menginginkan pemain yang bergerak karena instruksi kaku, melainkan karena kepercayaan pada sistem.
“Ini soal resiliensi, keberanian, dan kepercayaan. Proses ini memakan waktu berbulan-bulan untuk bisa terlihat hasilnya di lapangan. Dan yang paling penting, respons yang diberikan para pemain di arena adalah wujud kesadaran, bukan paksaan,” tegasnya.

Drama di Giuseppe Sinigaglia: Pembuktian Visi
Visi Fabregas tersebut teruji nyata saat menjamu AS Roma. Pertandingan dimulai dengan guncangan bagi tuan rumah ketika tim tamu mencuri keunggulan lewat titik putih. Donyell Malen sukses mengeksekusi penalti pada menit ketujuh, membuat pendukung Como sempat terdiam.
Namun, di sinilah mentalitas Como berbicara. Memasuki paruh kedua, I Lariani tampil lebih menggigit. Pada menit ke-60, Anastasios Douvikas meledakkan sorak-sorai di tribun usai mengonversi umpan matang Alex Valle menjadi gol penyeimbang.
Petaka bagi Roma datang empat menit kemudian. Wesley Franca menerima kartu kuning kedua yang berujung pengusiran oleh wasit. Keunggulan jumlah pemain ini tidak disia-siakan oleh Como. Lewat sebuah kemelut di area pertahanan musuh pada menit ke-79, Diego Carlos muncul sebagai pahlawan dengan menceploskan bola ke gawang lawan. Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang, mengunci posisi Como di empat besar.
Nostalgia dan Luka Masa Lalu
Kebangkitan Como 1907 adalah cerita tentang ketekunan. Berdiri sejak 25 Mei 1907 dengan nama Calcio Como, klub asal Lombardia ini punya sejarah panjang yang berliku. Stadion mereka, Giuseppe Sinigaglia, adalah saksi bisu sejarah Italia yang dibangun atas kehendak Benito Mussolini pada 1927.
Meski sempat merasakan kasta tertinggi pada awal 2000-an, Como jatuh ke lubang hitam kebangkrutan pada Desember 2004. Masalah finansial yang pelik membuat klub ini terlempar ke kasta amatir, Serie D. Luka lama kembali terbuka pada 2016 saat masalah finansial lagi-lagi membuat mereka kolaps, meski saat itu sempat dimiliki oleh istri Michael Essien, Akosua Puni Essien.
Sentuhan Indonesia dan Era Keemasan
Titik balik sejarah Como terjadi pada 4 April 2019. SENT Entertainment, perusahaan di bawah naungan raksasa Indonesia, Grup Djarum milik Hartono bersaudara (Bambang dan Budi Hartono), resmi mengambil alih kepemilikan.
Di tangan dingin pengusaha Indonesia ini, Como tidak lagi menjadi ‘pesakitan’ finansial. Pembangunan infrastruktur digenjot, akademi dikembangkan, dan tim utama diperkuat secara kompetitif. Kehadiran tokoh seperti Thierry Henry dan Cesc Fabregas sebagai pemilik saham minoritas menambah daya tarik global bagi klub ini.
Hasilnya instan namun terukur. Dari Serie D, mereka merangkak naik ke Serie C, Serie B, hingga akhirnya pada 2024 berhasil kembali ke Serie A setelah penantian 21 tahun. Kini, Como bukan lagi tim pinggiran. Mereka adalah raksasa yang siap bertarung memperebutkan tiket paling bergengsi di Eropa: Liga Champions.










