Cerita dr Tirta Kena Heat Stroke di Berlin Marathon 2025, Tetap Finis dan Cetak Personal Best

Haris_Medium_dfc3c72d48.avif

Minggu, 15 Februari 2026 – 14:21 WIB

 Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026). (Foto: inilah.com/Harris Muda)

Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026). (Foto: inilah.com/Harris Muda)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta membagikan pengalaman ekstrem saat mengikuti Berlin Marathon 2025. Dalam ajang yang masuk kategori World Marathon Majors itu, ia sempat mengalami heat stroke hingga harus mendapat penanganan di ambulans. Namun, ia tetap memutuskan kembali ke lintasan dan finis dengan catatan personal best.

Menurut Tirta, maraton memiliki tingkat ketidakpastian yang jauh lebih tinggi dibanding lomba jarak pendek.

“Namanya marathon tuh unpredictable. Jadi beda sama 5K, 10K, sama HM. Kalau 5K kan kita push habis zona 5, jadi enggak peduli HR-nya berapa,” katanya di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (15/2/2026).

Ia menambahkan, pada full marathon selalu ada faktor yang sulit dikontrol meski persiapan sudah maksimal.

“Kalau di full marathon tuh kita mau latihan sesempurna apapun, kadang ada faktor X yang kita enggak bisa kontrol,” ujarnya.

Tirta mengaku telah berlatih matang sebelum berangkat ke Berlin. Namun, ia salah memprediksi kondisi cuaca. Awalnya ia memperkirakan suhu di bawah 10 derajat Celsius, tetapi pada hari lomba suhu mencapai 28 hingga 31 derajat Celsius.

“Ternyata hari H itu 28 sampai 31 derajat. Itu menjadi Berlin terpanas dan panasnya terik kayak di Priok, panas banget,” katanya.

Kondisi makin berat karena sistem water station di Berlin berbeda dengan yang biasa ia temui di Indonesia.

“Di sana enggak ada elektrolit sama sekali. Kami harus ready sendiri, cuma ada air putih, apel, sama pisang,” kata Tirta. “Jadi mau enggak mau kami harus bawa salt stick atau elektrolit sendiri.”

Pada kilometer 26, suhu tubuhnya melonjak hingga 39 derajat Celsius. Ia tumbang dan dibawa ke ambulans untuk mendapat penanganan darurat selama sekitar 15 menit. Saat itu, ia sempat mempertimbangkan untuk DNF (Did Not Finish).

Namun, ia akhirnya memilih kembali ke lintasan. Selain pertimbangan biaya penalti DNF yang disebutnya mencapai 200 euro, faktor mental juga berperan besar.

“Kalau sudah di race tuh bukan dokter lagi, ya Tirta-nya yang masuk, ego-nya. Sudah jauh-jauh ke sini, enggak ada kata DNF. Mau pincang, mau keseret, tetap saya lanjutin,” ujarnya.

Keputusan tersebut secara medis ia akui bukan langkah ideal. Namun, ia berhasil menuntaskan lomba dengan catatan waktu 4 jam 40 menit, sekaligus menjadi personal best-nya di ajang World Marathon Majors.

Pengalaman di Berlin menjadi pelajaran bagi Tirta soal pentingnya manajemen cuaca, hidrasi, dan kontrol ego saat lomba. Meski finis dengan pencapaian terbaik, ia menegaskan risiko heat stroke bukan hal yang bisa dianggap sepele dalam lomba jarak jauh.