Bukan Sekadar Donor-Penerima: Menakar Kedalaman Kemitraan Strategis Khusus Indonesia-Korsel

Hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) kini tengah menapaki babak baru yang jauh lebih mendalam. Sejak mematri Kemitraan Strategis Khusus pada 2017, kedua negara tidak lagi sekadar terjebak dalam protokoler formal, melainkan telah bertransformasi menjadi poros kekuatan ekonomi dan pertahanan di kawasan Asia Pasifik.

Namun, di balik angka-angka statistik, terdapat pergeseran paradigma yang fundamental. Jisun Song, Associate Professor dari Korea National Diplomatic Academy, menilai bahwa fondasi hubungan ini telah berevolusi secara signifikan, terutama melalui skema bantuan pembangunan resmi atau Official Development Assistance (ODA).

Sejarah mencatat, dukungan Seoul ke Jakarta telah meroket lebih dari 280 kali lipat sejak 1987. Dari nilai awal yang hanya ratusan ribu dolar, kini menyentuh angka fantastis US$181 juta pada tahun 2023. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai penerima bantuan terbesar kedua bagi Korsel.

Mendobrak Sekat Tradisional

Meski angka bantuan terus membubung, Jisun Song menegaskan bahwa hubungan kedua negara sudah saatnya naik kelas. Menurutnya, dinamika yang ada saat ini menuntut pendekatan yang lebih modern dan setara.

“Kemitraan kerja sama pembangunan antara Korsel dan Indonesia tidak seharusnya terbatas pada hubungan tradisional donor-penerima. Kedua negara perlu mengeksplorasi cara-cara inovatif untuk membangun kemakmuran berkelanjutan di kawasan,” ujar Jisun Song dalam ulasannya.

Pandangan Song ini didasari pada kenyataan bahwa Indonesia bukan lagi sekadar ‘penerima’. Melalui pendirian Indonesian AID pada 2019 dan peran aktif dalam Kerja Sama Selatan-Selatan, Jakarta telah memposisikan diri sebagai pemain utama dalam diplomasi pembangunan global.

Menuju Era AI dan Diplomasi Budaya

Menyongsong KTT yang akan digelar pada April 2026 mendatang, Song menyoroti pentingnya kedua negara untuk mulai merambah sektor-sektor masa depan. Ia melihat potensi besar dalam integrasi teknologi yang lebih canggih untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

“Kedua negara dapat menjajaki proyek baru di bidang kecerdasan buatan (AI) dan budaya, yang menjadi sektor prioritas baru dalam strategi ODA Korea periode 2026–2030,” ungkap Song.

Langkah ini dianggap krusial, mengingat Indonesia tengah berambisi menjadi anggota OECD pada 2027. Sinergi di bidang teknologi tinggi dan ekonomi kreatif diyakini akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi kedua negara mitra strategis ini.

Sinergi di Panggung Global: G20 dan MIKTA

Selain kerja sama bilateral, Jisun Song juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi di forum multilateral. Korsel dan Indonesia merupakan pilar penting dalam G20 dan MIKTA. Dengan rencana Korsel memegang Presidensi G20 pada 2028, duet ini diharapkan mampu membawa aspirasi negara berkembang ke meja perundingan dunia.

Implementasi nyata sudah terlihat dari proyek trilateral yang digawangi Korea International Cooperation Agency (KOICA) bersama Indonesia di Timor-Leste. Song optimistis bahwa mekanisme kelembagaan yang sudah ada akan mempercepat pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030.

“Melalui forum mini-lateral maupun multilateral, Korsel dan Indonesia diharapkan dapat bersama-sama mendorong aksi nyata terhadap berbagai isu pembangunan,” pungkasnya.

Dengan visi yang dipaparkan oleh Jisun Song tersebut, jelas bahwa aliansi Jakarta-Seoul bukan lagi soal siapa memberi dan siapa menerima, melainkan tentang bagaimana dua kekuatan besar ini berjalan beriringan untuk memastikan stabilitas dan kemakmuran di panggung global.