Faskes Rusak dan Retak, Kemenkes Alihkan Layanan ke RS Lapangan di NTT

Reyhaanah Medium.jpeg

Senin, 31 Agustus 2026 – 00:10 WIB

Kemensos dan Relawan membantu pemulihan korban gempa NTT (Foto: Kemensos)

Kemensos dan Relawan membantu pemulihan korban gempa NTT (Foto: Kemensos)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerjunkan 392 tenaga kesehatan dan mendirikan dua rumah sakit (RS) lapangan berbasis tenda udara (inflatable) untuk memastikan korban luka berat di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat penanganan medis yang aman dari risiko gempa susulan.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan hingga Rabu (26/8/2026), bencana tersebut telah menyebabkan 105 orang meninggal dunia. Selain itu, 385 korban luka berat masih menjalani perawatan intensif, sedangkan 1.287 orang mengalami luka ringan.

Sementara itu, lebih dari 185 ribu warga masih tersebar di 444 titik pengungsian.

Total warga terdampak di tujuh kabupaten, yakni Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada, mencapai 1,91 juta jiwa.

Kerusakan sejumlah fasilitas kesehatan (faskes) membuat Kemenkes memindahkan layanan medis ke luar gedung. Dua RS lapangan didirikan di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dan RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai.

“Ketika bangunan faskes rusak atau retak, pelayanan harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman agar keselamatan pasien dan tenaga kesehatan tetap terjamin,” kata Agus dalam keterangan yang diterima, Minggu (30/8/2026).

Untuk memperkuat kapasitas 70 rumah sakit dan 444 puskesmas di wilayah terdampak, Kemenkes juga memberangkatkan 207 relawan medis dari pusat. Sebanyak 78 relawan tambahan akan menyusul dan bertugas selama 14 hari ke depan.

Mobilisasi tenaga kesehatan lintas profesi tersebut dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC). Tenaga yang dikerahkan mencakup dokter spesialis bedah dan ortopedi hingga tenaga gizi serta sanitasi.

Selain menangani korban trauma fisik, Kemenkes mengantisipasi potensi penyebaran penyakit di lokasi pengungsian. Saat ini, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan dengan 9.668 kasus.

Petugas juga mencatat 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo. Seluruh kasus tersebut telah ditangani dengan pemberian vaksinasi lengkap.

Kemenkes memastikan ketersediaan logistik medis, alat kesehatan, serta sistem rujukan pasien tetap terjaga. Pemerintah juga mengimbau masyarakat terdampak untuk menjaga kebersihan lingkungan pengungsian dan segera memeriksakan diri ke posko kesehatan terdekat apabila mengalami keluhan kesehatan.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang