Donatur WHO Penguasa AI, Dokter Tifa Singgung Vaksin Jadikan Manusia Wadah Digital

Dokter sekaligus ilmuwan yang juga aktivis kesehatan, dr. Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tida dalam karya terbarunya berjudul Kontroversi Vaksin: Jalan Pintas Mengubah Dunia menyoroti proyek vaksin yang berbeda antara zaman sekarang dengan dahulu.

Ia awalan menjelaskan seputar donatur lembaga kesehatan internasional WHO yang dahulu 80 persen sumber dananya berasal dari iuran negara-negara peserta WHO.

Namun kini, iuran hanya 20 persen saja sementara sisanya 80 persen dananya bersumber dari para penguasa di bidang Artificial Intelligence (AI), salah satunya Bill Gates.

“Mereka (termasuk Bill Gates) menguasai 10 persen dari uangnya dunia. Siapa? Yaitu Mega Empower dari dunia artificial intelligence, tokoh utamanya ada 6 orang ini dan mereka berinvestasi pada lembaga-lembaga atau perusahaan-perusahaan farmasi dan lembaga-lembaga kesehatan,” tutur Dokter Tifa dalam diskusi bertajuk ‘Kontroversi Vaksin: Ikhtiar Sains atau Melawan Takdir’ yang diadakan inilah.com di kawasan Jakarta Selatan, Minggu (30/8/2026).

Kontroversi vaksin bersama Dokter Tifa

Ia menjelaskan, beberapa hal yang akan mereka lakukan berkaitan dengan vaksin ini yakni menggunakan segala macam teknologi pada tubuh manusia.

“Mereka melakukan modifikasi, instruksi biologi kemudian mendistribusikan skala miliaran pada 8 miliar tubuh manusia dengan segala macam. Alasannya selalu penyakit, alasannya agar platform ini masih punya jalan untuk bisa masuk tubuh manusia,” tegasnya.

Salah satunya saja kata dia, vaksin HPV yang memasukkan platform mRNA. Ia bahkan menilai terdapat 200 nama vaksin berbasis infeksi yang mereka buat.

“Sebenarnya mereka tuh pengennya apa sih? Ya satu adalah manusia menjadi data set, jadi kita ini bukan lagi human tapi pusat produksi data, kemudian bisa dilakukan ekstraksi data untuk apapun yang mereka mau lakukan,” ungkapnya.

Dalam ulasannya, Dokter Tifa memetakan spektrum efek samping yang dapat muncul akibat intervensi medis berbasis mRNA ke dalam beberapa tingkatan:

• Reaksi Lokal dan Sistemik Ringan (Lazim): Gejala awal yang umum terjadi sebagai tanda aktifnya sistem kekebalan tubuh. Biasanya berupa nyeri, kemerahan, dan pembengkakan di titik penyuntikan, disusul demam, kelelahan, sakit kepala, hingga nyeri otot (myalgia) dalam kurun 24–48 jam.

• Reaksi Alergi dan Anafilaksis (Langka): Reaksi hipersensitivitas berat yang muncul tak lama setelah penyuntikan. Kondisi ini ditandai dengan sesak napas, gatal-gatal (urtikaria), pembengkakan wajah, hingga penurunan tekanan darah secara drastis yang menuntut penanganan medis darurat.

• Miokarditis dan Perikarditis (Sangat Langka): Peradangan pada otot jantung (miokarditis) atau selaput pembungkus jantung (perikarditis). Kasus ini paling banyak ditemukan pada pria usia muda pascadosis kedua, dengan gejala khas nyeri dada, sesak napas, dan jantung berdebar (palpitasi).

• Gangguan Neurologis (Sangat Langka): Masalah yang menyasar sistem saraf, seperti Sindrom Guillain-Barré (GBS), kelumpuhan otot wajah sementara (Bell’s palsy), hingga rasa kebas menetap (parestesia).

• Gangguan Pembekuan Darah (Sangat Langka): Pemicu pembentukan gumpalan darah yang disertai anjloknya kadar trombosit (thrombocytopenia), yang berisiko menyumbat pembuluh darah pada organ-organ vital.

Sebagai informasi, buku Kontroversi Vaksin: Jalan Pintas Mengubah Dunia sendiri merupakan buku ke-7 karya Dokter Tifa. Karya ini digarap amat tebal, mencapai lebih dari 700 halaman, serta dicetak eksklusif dengan format full color dan kertas premium agar data visual serta narasi sejarah di dalamnya mudah dipahami pembaca.