Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung saat menyampaikan sambutannya dalam acara Peluncuran ETF Emas dan HUT Pasar Modal Indonesia, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (10/8/2026).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengungkapkan kebutuhan investasi Indonesia diproyeksikan mencapai Rp8.705 triliun pada 2027. Dia menyebut kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya mampu membiayai sebagian kecil dari kebutuhan tersebut.
“APBN hanya mampu menjangkau sekitar Rp459 triliun. Sebagian lagi oleh BUMN termasuk Danantara sebesar Rp330 triliun,” ujar Juda dalam acara Peluncuran ETF Emas dan HUT Pasar Modal Indonesia, di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, kebutuhan pembiayaan pembangunan semakin besar seiring dengan kebutuhan infrastruktur, energi, pendidikan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga hilirisasi. Sehingga sektor tersebut membutuhkan skala pembiayaan yang jauh melampaui kapasitas fiskal pemerintah.
Juda pun menyampaikan, sekitar Rp7.973 triliun sisanya diharapkan berasal dari pembiayaan swasta, baik melalui perbankan, lembaga pembiayaan lainnya, maupun pasar modal.
“Sisanya sebagian besar harus berasal dari sumber pembiayaan swasta yaitu Rp7.973 triliun atau sekitar 91 persen berasal dari pembiayaan swasta apakah itu bank, pembiayaan lain dan termasuk di sini adalah pasar modal,” kata dia.
Juda menjelaskan, besarnya kebutuhan pembiayaan swasta tersebut membuat pasar modal memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan ekonomi nasional.
Pasar modal dinilai menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana yang dimiliki masyarakat. Dengan mekanisme tersebut, perusahaan dapat memperoleh sumber pendanaan untuk ekspansi dan investasi, sementara masyarakat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembiayaan kegiatan ekonomi.
“Di sinilah pasar modal memegang peran strategis sebagai sumber pembiayaan swasta. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kebutuhan pembiayaan korporasi dengan dana masyarakat,” ucap dia.
Menurutnya, pasar modal juga dapat menjadi sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan. Karena itu, penguatan pasar modal menjadi penting agar mampu menopang kebutuhan pembiayaan investasi dalam jumlah besar.
“Ia adalah sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan. Oleh sebab itu sering disebut dengan equity market karena memang berkeadilan antar pihak yang ada di dalam pasar modal,” katanya.
Dia menambahkan, pasar modal harus terus dikembangkan agar semakin dalam, likuid, serta memiliki tingkat kepercayaan dan kredibilitas yang tinggi. Dengan kondisi tersebut, pasar modal diharapkan dapat berperan lebih optimal dalam memobilisasi dana masyarakat dan mengalirkannya ke sektor-sektor produktif, sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pasar modal hadir sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh sebab itu kita harus mewujudkan pasar modal Indonesia yang dalam, yang likuid, dan juga tentu saja yang trustable dan kredibel sehingga dapat berperan secara optimal dalam memfasilitasi investasi dan mendukung target-target pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” jelasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












