Habib Luthfi Tekankan Zikir Kebangsaan untuk Jaga Ingatan Sejarah Perjuangan Bangsa

Ketua Umum PB Jatma Aswaja Habib Luthfi bin Ali bin Yahya mengatakan, zikir Kebangsaan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kegiatan keagamaan.

Pesan tersebut disampaikan Habib Luthfi saat menghadiri kegiatan doa keselamatan bangsa, zikir kebangsaan, dan haul pendiri NKRI yang digelar Pengurus Besar Jamiyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabaroh Ahlussunnah Wal Jamaah (PB Jatma Aswaja) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (9/8/2026).

Ia mengutip sebuah ungkapan, “Dzikrus sholihin tanzilur rohmah”, yang dimaknai sebagai mengingat atau menceritakan orang-orang saleh dan orang-orang yang memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara dapat menjadi sebab turunnya rahmat.

“Dzikir Kebangsaan ada perbandingan, walaupun terkadang kurang pas, tapi kita mengambil kalimat dzikirnya, Dzikrus sholihin tanzilur rohmah. Orang yang mau menceritakan orang-orang yang saleh, orang-orang yang berguna bagi umat, nusa, dan bangsa, jadi sebab turunnya rahmat,” kata Habib Luthfi.

Menurutnya, perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia tidak dilakukan oleh satu kelompok, agama, atau suku tertentu. Kemerdekaan merupakan hasil perjuangan bersama seluruh elemen bangsa.

“Dengan zikir Kebangsaan yang secara global, yang memerdekakan bangsa ini tidak terdiri dari satu agama atau satu suku, tapi tanggung jawab seluruhnya di pundak bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi peran para tokoh agama dan tokoh lintas agama yang turut menjadi bagian dari perjuangan sekaligus menjaga fondasi kebangsaan dan Pancasila.

“Dan beberapa tokoh agama yang menjadi benteng-benteng Pancasila, terutama saudara-saudara kami lintas agama yang tidak bisa saya sebutkan satu demi satu,” kata Habib Luthfi.

Karena itu, Habib Luthfi mempertanyakan sejauh mana masyarakat saat ini masih mengingat jasa dan perjuangan para pendahulu.

“Sejauh mana kita mengingat perjuangan jasa-jasa beliau? Apakah Dzikir Kebangsaan ini hanya sekarang kita lakukan?” katanya.

Habib Luthfi menegaskan kegiatan tersebut harus menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran sejarah kepada generasi penerus. Menurutnya, generasi mendatang perlu mengetahui bagaimana para pendahulu berjuang untuk merebut kemerdekaan.

“Sangat pentingnya dengan adanya Dzikir Kebangsaan supaya mengingatkan regenerasi yang akan datang tidak akan melupakan sejarah,” ucapnya.

Ia kemudian mengungkapkan refleksi pribadinya ketika melihat bendera Merah Putih. Habib Luthfi mengatakan dirinya terkadang merasa malu karena menyadari belum tentu pernah memberikan kontribusi sebesar para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Yang kedua, sering saya mengulang-ulang, saya sebetulnya malu kalau melihat Merah Putih. Karena apa? Saya bertanya kepada diri saya sendiri: pernah andil apakah dengan tegaknya Merah Putih kembali? Boro-boro ngangkat senjata, ngangkat bambu runcing saja belum tentu pernah,” ujarnya.

Menurutnya, penghormatan terhadap bendera Merah Putih tidak semata-mata ditunjukkan melalui simbol atau seremoni. Yang jauh lebih penting adalah memahami nilai perjuangan yang terkandung di balik simbol tersebut.

Ia menyebut Merah Putih memiliki makna kehormatan, harga diri, dan jati diri bangsa.

“Karena di dalam Sang Saka Merah Putih itu ada tiga hal: yang pertama kehormatan bangsa, harga diri bangsa, jati diri bangsa ada di dalam Merah Putih,” kata Habib Luthfi.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus mengenang sejarah perjuangan para pendiri dan pejuang bangsa sebagai bentuk rasa terima kasih atas kemerdekaan yang telah diwariskan.

“Apa tanda terima kasih kita kepada para beliau? Selalu akan mengingat sejarah perjuangan-perjuangan para beliau,” tuturnya.

Habib Luthfi juga mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam meneruskan pengetahuan sejarah kepada anak-anak. Menurutnya, generasi muda harus mengetahui bagaimana ulama, tokoh agama, rakyat, dan berbagai elemen masyarakat terdahulu bersatu serta mengambil tanggung jawab dalam perjuangan melawan penjajahan.

“Mari kita sampaikan kepada anak-anak kita supaya bisa mengetahui, sehingga tidak kepaten obor, kehilangan jejak sejarah,” katanya.

Ia menilai sejarah perjuangan bangsa berpotensi semakin terlupakan apabila generasi muda tidak lagi mengenal tokoh-tokoh yang berperan dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

“Sejarahnya hampir hilang karena anak-anak kita tidak mengerti bagaimana tokoh-tokoh kita, pejuang-pejuang kita, dari tingkatan tokoh agama, ulama, rakyat, dan lain sebagainya, tergugah, bertanggung jawab untuk memerdekakan bangsa ini dari belenggu penjajah,” ujar Habib Luthfi.

Menurutnya, Jatma bersama berbagai elemen masyarakat memiliki peran untuk terus menggugah kesadaran tersebut melalui kegiatan zikir dan haul kebangsaan.

“Di sinilah peranan Jatma bersama-sama menggugah kembali dengan adanya dzikir atau haul kebangsaan ini supaya kita tidak melupakan sejarah,” katanya.

Habib Luthfi berharap kegiatan Dzikir Kebangsaan tidak hanya digelar oleh organisasi tertentu. Menurutnya, kegiatan serupa justru perlu tumbuh di berbagai daerah menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus.

“Maka dari itu, dengan Dzikir Kebangsaan, saya kira tidak harus kita yang Jatma yang mengadakan saja. Justru nanti menyongsong hari 17 Agustus, hari karamah yang akan berapa hari lagi, bisa tumbuh di mana-mana dengan istilah Dzikir Kebangsaan,” ujarnya.

Habib Luthfi menyebut, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk kembali menggali kisah dan keteladanan para pejuang bangsa yang selama ini mungkin belum banyak diketahui generasi muda.

“Untuk menguak mutiara-mutiara terpendam para pejuang, para pendahulu, sehingga anak-anak kita memahami,” ungkap Habib Luthfi.

Ia berharap peserta yang mengikuti kegiatan tersebut membawa pulang semangat baru untuk mencintai bangsa dan tanah air. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan melahirkan generasi penerus yang mampu menjaga warisan perjuangan para pendahulu.

“Itu harapan kita. Maka dari itu, sepulangnya nanti kita dari Dzikir Kebangsaan ini akan mendapatkan satu buah yang luar biasa: bekal menambahkan cinta bangsa, cinta tanah airnya, dan sangat mengharap untuk tumbuhnya regenerasi kemudian yang tidak akan memalukan kepada para leluhurnya,” pungkas Habib Luthfi.