Tujuh puluh tahun lalu, rekam jejak historis Mercedes-Benz dengan Jerman era Perang Dunia II sempat memicu keraguan publik Amerika Serikat (AS). Kini, pabrikan otomotif raksasa asal Jerman itu kembali berurusan dengan sentimen politik di Negeri Paman Sam. Bedanya, kali ini yang dipersoalkan adalah keterikatannya dengan China.
Mengutip laporan Carscoops, Sabtu (24/7/2026), sebuah usulan rancangan undang-undang (RUU) baru di Senat AS yang dirancang untuk membendung ekspansi produsen otomotif berbau China, tanpa sengaja ikut menyenggol posisi Mercedes-Benz di pasar AS.
Ancaman pelarangan ini mengemuka setelah Komite Perdagangan Senat meloloskan RUU yang membatasi ruang gerak produsen mobil dengan kepemilikan saham asal China di atas ambang batas tertentu.
Tersandung Saham BAIC dan Pendiri Geely
Masalah besar bagi Mercedes terletak pada struktur kepemilikan sahamnya. Saat ini, dua raksasa otomotif asal China menguasai hampir 20 persen saham Mercedes-Benz. Kedua investor tersebut adalah BUMN otomotif China, BAIC, serta pendiri Geely, Li Shufu.
Gara-gara akumulasi saham dua investor Tiongkok itu menembus angka 20 persen, Mercedes langsung masuk dalam zona merah RUU Senat AS, yang rencananya bakal menetapkan batas maksimal kepemilikan saham China sebesar 15 persen.
Jika RUU ini disahkan tanpa penyesuaian, Mercedes terancam tidak bisa menjual kendaraannya di pasar terbesar kedua di dunia tersebut.
Senat AS Pasang Badan: Tidak akan Melarang Mercedes
Kendati aturan ini bikin ketar-ketir, para pembuat kebijakan di Washington bergegas menenangkan suasana. Sejumlah anggota Senat utama memberikan sinyal tegas bahwa melarang merek sekelas Mercedes bukanlah tujuan utama dari regulasi ini.
Senator Ted Cruz secara terbuka menegaskan dalam rapat komite bahwa pemerintah AS tidak pernah berencana menyapu bersih Mercedes-Benz dari jalanan Amerika.
Hal senada diungkapkan Senator Bernie Moreno. Ia menyebut Mercedes masih memiliki tenggat waktu yang terbilang longgar, yakni hingga 2030, untuk merapikan struktur kepemilikan saham mereka atau mengajukan dispensasi khusus. Artinya, para pemilik diler Mercedes di AS belum perlu risau bakal kehilangan bisnis mereka dalam waktu dekat.
Sinyal Keras Perang Teknologi dan Biaya Produksi Melonjak
Meski Mercedes mendapat angin segar, dinamika ini menjadi cermin betapa agresifnya AS memutus rantai pasok otomotif dari China. Sebelumnya, regulasi ketat terkait perangkat lunak buatan China pada era Presiden Joe Biden bahkan telah memakan korban: Polestar—yang mayoritas sahamnya dimiliki Geely—terpaksa angkat kaki dari pasar AS tahun ini.
AS sendiri melarang penggunaan perangkat lunak konektivitas asal China untuk kendaraan model tahun 2027, serta perangkat keras (hardware) China untuk model tahun 2030. Isu keamanan nasional, privasi data kendaraan, dan sistem komunikasi menjadi alasan utama di balik pembatasan ketat ini.
Kini, industri otomotif global berpacu dengan waktu. Pemasok sibuk mencari komponen pengganti, produsen melakukan audit rantai pasok, dan sebagian mengajukan permohonan pengecualian. Namun, langkah ini tidak murah. Para eksekutif industri memperkirakan proses “pembersihan” komponen dari China berpotensi melambungkan biaya produksi kendaraan hingga 15 persen.











