Di balik megahnya Menara Masjid Induk Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, tersimpan sebuah kisah spiritual yang telah diwariskan lintas generasi. Empat huruf hijaiyah yang terukir di menara itu bukan sekadar ornamen, melainkan pesan rahasia yang baru dibuka bertahun-tahun setelah sang penulis wafat.
Empat huruf tersebut—kha, ra, ta, dan mim—kini menjadi salah satu elemen utama dalam logo Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Tambakberas.
Menara Masjid Induk PPBU merupakan bangunan tertua di kompleks pesantren yang berdiri sebelum Indonesia merdeka. Selain menjadi saksi perjalanan panjang pendidikan Islam di Nusantara, bangunan ini juga menyimpan pesan spiritual peninggalan KH Hasbullah Said, ayah dari pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah.
Pesan yang Disembunyikan hingga Sang Kiai Wafat
Dalam buku Masterpiece Islam Nusantara – Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945) karya Zainul Milal Bizawie disebutkan, setelah menjalani tirakat yang panjang, KH Hasbullah Said menuliskan empat huruf hijaiyah di menara masjid.
Usai menuliskan pesan tersebut, beliau menutupnya menggunakan kain satir dan melarang para santri membukanya.
Menjelang wafat, KH Hasbullah Said berpesan agar tulisan itu baru dibuka oleh putranya, KH Abdul Wahab Hasbullah, pada tahun 1948.
“Lek misale aku mati omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menoro tahun 1948. (Kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan kepada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948).”
Beberapa bulan kemudian, KH Hasbullah Said wafat. Amanat itu pun disampaikan kepada KH Wahab Hasbullah yang telah melanjutkan kepemimpinan pesantren.
Didampingi para santri yang melantunkan Shalawat Burdah, KH Wahab kemudian membuka kain penutup tersebut. Di baliknya tampak empat huruf hijaiyah: kha, ra, ta, dan mim.
Dimaknai sebagai Simbol Kemerdekaan Sempurna
Menurut penuturan yang diwariskan di lingkungan pesantren, KH Wahab Hasbullah memahami rangkaian empat huruf tersebut sebagai simbol taamun yang dimaknai sebagai kemerdekaan sempurna.
Makna itu kemudian dikaitkan dengan situasi Indonesia pada 1948, ketika perjuangan mempertahankan kemerdekaan memasuki fase penting. Meski menghadapi agresi militer Belanda, Indonesia mulai memperoleh pengakuan internasional atas kemerdekaannya.
Sebelum membuka pesan tersebut, KH Wahab juga meminta para santri melakukan iktikaf selama sehari penuh di Masjid Induk PPBU sambil membaca Shalawat Burdah sebagai bentuk penghormatan terhadap ijazah yang diwariskan ayahnya.
Kini Menjadi Ikon Muktamar ke-35 NU
Ketua Umum Yayasan PPBU sekaligus Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq Sholeh, mengatakan menara Tambakberas dipilih sebagai ikon Muktamar karena menyimpan nilai sejarah sekaligus filosofi yang kuat.
Menurut Gus Rozaq, arsitektur menara yang berbentuk melingkar melambangkan persatuan dan kebersamaan warga Nahdliyin.
“Menara ini dibangun sebelum Indonesia merdeka. Bentuknya yang melingkar menggambarkan persatuan, bahwa dalam kondisi apa pun kita harus tetap bahu-membahu menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.
Selain melambangkan persatuan, menara yang menjulang tinggi juga dimaknai sebagai simbol semangat perjuangan para ulama dan santri dalam menjaga bangsa.
Hingga kini, empat huruf hijaiyah tersebut masih tampak jelas di dinding Menara Masjid Induk PPBU Tambakberas. Bagi warga Nahdlatul Ulama, tulisan itu bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi menjadi pengingat akan warisan spiritual, perjuangan kemerdekaan, serta nilai persatuan yang terus dijaga hingga sekarang.
Pemilihannya sebagai identitas visual Muktamar ke-35 NU sekaligus mempertegas bahwa Tambakberas bukan hanya lokasi penyelenggaraan muktamar, tetapi juga salah satu situs penting yang merekam jejak sejarah dan spiritualitas Nahdlatul Ulama.











