Uji Coba Ungkap Bus Listrik Bisa Pangkas Biaya Energi hingga 51 Persen

Penggunaan bus listrik dinilai semakin menjanjikan sebagai solusi transportasi masa depan setelah hasil uji coba operasional menunjukkan potensi penghematan biaya energi hingga 51 persen dibandingkan armada berbahan bakar konvensional.

Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam ajang Busworld Southeast Asia 2026, seiring meningkatnya upaya pemerintah dan pelaku industri mempercepat elektrifikasi sektor transportasi nasional.

Efisiensi biaya operasional menjadi salah satu faktor utama yang mendorong adopsi kendaraan listrik. Selain mampu menekan konsumsi energi, bus listrik juga dinilai dapat memberikan biaya operasional yang lebih stabil dan mudah diprediksi dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil yang rentan terhadap fluktuasi harga energi.

Direktur Utama PT Energi Makmur Buana (INVI), Alif Sasetyo, mengatakan elektrifikasi transportasi kini tidak lagi hanya dipandang sebagai bagian dari agenda pengurangan emisi karbon, tetapi juga menjadi strategi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat ketahanan energi nasional.

“Elektrifikasi transportasi bukan hanya tentang mengganti kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang mampu mendukung operasional secara berkelanjutan, mulai dari kendaraan, infrastruktur pengisian daya, layanan purna jual, hingga kesiapan sumber daya manusia,” kata Alif.

Elektrifikasi Meluas ke Transportasi Antarkota

Tren penggunaan kendaraan listrik juga mulai berkembang ke berbagai segmen transportasi. Jika sebelumnya lebih banyak diterapkan pada layanan transportasi perkotaan, kini bus listrik mulai merambah sektor antarkota antarprovinsi (AKAP) dan transportasi kawasan industri.

Salah satu implementasi terbaru ditandai dengan rencana pengoperasian layanan bus listrik rute Pontianak-Sintang di Kalimantan Barat pada pertengahan 2026. Jalur tersebut akan menjadi salah satu contoh penerapan kendaraan listrik untuk perjalanan antarkota dengan dukungan infrastruktur pengisian daya di sejumlah titik strategis.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik mulai dipersiapkan untuk melayani kebutuhan mobilitas jarak jauh yang selama ini didominasi armada berbahan bakar diesel.

Selain sektor transportasi publik, penggunaan bus listrik juga mulai diterapkan untuk layanan antar-jemput karyawan di kawasan industri, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap moda transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Efisiensi Jadi Daya Tarik Utama

Di tengah tantangan biaya operasional transportasi yang terus meningkat, efisiensi energi menjadi nilai tambah utama kendaraan listrik.

Hasil uji coba pada layanan Trans Semarang menggunakan armada bus listrik merek HIGER menunjukkan potensi penghematan biaya energi hingga 51 persen dibandingkan penggunaan bahan bakar konvensional dalam operasional harian.

Temuan tersebut memperkuat keyakinan bahwa elektrifikasi transportasi tidak hanya memberikan manfaat lingkungan melalui penurunan emisi, tetapi juga menawarkan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi operator.

Dengan biaya energi yang lebih rendah, operator transportasi memiliki peluang untuk meningkatkan efisiensi usaha sekaligus memperkuat kualitas layanan kepada masyarakat.

Dukung Target Transportasi Rendah Emisi

Pemerintah terus mendorong percepatan penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pembangunan transportasi rendah emisi.

Selain penyediaan armada, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga mencakup pembangunan stasiun pengisian daya, layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang teknologi kendaraan listrik.