Sambutan Presiden Prabowo Subianto saat Penutupan Musyawarah Alim Nasional dan Konferensi Besar NU di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).(Foto: Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$), Presiden Prabowo Subianto punya analisis khusus. Kejadian ini akibat kekayaan Indonesia yang terus mengalir ke luar negeri dalam jumlah besar.
Hal itu disampaikan Prabowo ketika berbicara di Penutupan Musyawarah Alim Ulama Nasional dan Konferensi Besar NU di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). “Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar,” kata Prabowo.
Prabowo kemudian menganalogikan kondisi saat ini, layaknya tubuh manusia. Ketika tubuh kehilangan darah secara terus-menerus, akhirnya mengalami kolaps.
“Kalau darah kita tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati. Begitu kayanya republik kita, tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri saudara-saudara sekalian,” ujarnya.
Selanjutnya, Prabowo menyampaikan, data 22 tahun terakhir, aliran dana yang keluar dari Indonesia mencapai US$343 miliar. Sementara keuntungan yang diperoleh mencapai US$436 miliar, sehingga porsi kekayaan yang benar-benar tinggal di dalam negeri, dinilai masih sangat kecil.
“Jadi kita lihat dari neraca itu, inflow, outflow. Kita lihat di sini selama 22 tahun uang yang keluar itu 343 miliar. Jadi keuntungan 436, yang keluar 343. Yang tinggal adalah sedikit sekali dibandingkan yang keluar. Ini angka di depan, di depan kita saudara-saudara sekalian,” ucapnya.
Tak sampai di situ, Prabowo menyoroti praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Menurutnya, praktik tersebut menyebabkan kerugian besar bagi negara karena sebagian penerimaan tidak tercatat secara benar.
“Apa yang harus kita ambil kesimpulan? Ternyata sekali lagi dari PBB, yang terjadi adalah yang disebut under-invoicing atau laporan palsu. Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi,” paparnya.
Prabowo pun membeberkan Indonesia diperkirakan mengalami kerugian hingga US$908 miliar, dalam kurun waktu 34 tahun. Nilai tersebut setara Rp15.000 triliun.
“Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB, kita telah rugi 908 miliar dolar selama 34 tahun atau Rp15 ribu triliun. Rp15 ribu triliun! Saudara-saudara ini semua data keluar,” jelasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











