Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Pergerakan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS (US$) tetap menarik untuk dicermati pelaku pasar. Sayangnya, mata uang Garuda terlihat belum ‘bugar’ saat pembukaan perdagangan Selasa (23/6/2026).
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, sekitar pukul 10.11 WIB, rupiah mentok di level Rp17.873/US$. Atau melemah 30 poin yang setara 0,17 persen. Pada penutupan Senin (22/6), rupiah bertengger di level Rp18.843/US$.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, sentimen yang mengikuti rupiah di pasar keuangan, terkait perkembangan perang Timur Tengah antara AS-Iran.
Sentimen pasar sempat terguncang setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran tentang potensi aksi militer tambahan, kecuali Iran mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Lebanon.
“Namun, pembicaraan AS-Iran berakhir di Swiss, dengan Teheran mengatakan telah mendapatkan pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, meredakan kekhawatiran tentang kekurangan pasokan di pasar global dan menekan harga minyak mentah,” kata Ibrahim, dikutip Selasa (23/6/2026).
Sementara dari dalam negeri, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi seperti inflasi. Adapun, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, akan memberikan andil terhadap peningkatan inflasi nasional.
Di sisi lain, kata Ibrahim, tantangan utama datang dari transmisi harga minyak dan komoditas global ke dalam negeri, atau yang lazim disebut sebagai imported inflation.
Faktor rambatan global tersebut secara langsung berdampak pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices), seperti yang tercermin dari kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi baru-baru ini.
Faktor risiko kedua yang perlu diwaspadai, menurut Ibrahim, adalah potensi gangguan cuaca. Fenomena El Nino diperkirakan akan melanda Indonesia pada periode akhir Juni hingga Oktober atau November mendatang.
“Kondisi cuaca ekstrem ini dikhawatirkan memberikan tekanan serius terhadap kelompok harga pangan bergejolak (volatile food),” imbuhnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












