Gary Neville Sebut FIFA Diktator Buntut Kontroversi VAR Qatar vs Swiss

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) akhirnya memberikan klarifikasi terkait kontroversi Video Assistant Referee (VAR) yang mewarnai hasil imbang 1-1 antara Qatar melawan Swiss pada laga Grup B Piala Dunia 2026, Sabtu lalu. FIFA mengkambinghitamkan adanya “gangguan teknis” sebagai penyebab utamanya.

Kontroversi bermula saat wasit memberikan hadiah penalti kepada Swiss—yang kemudian sukses dieksekusi oleh Breel Embolo—menyusul pelanggaran kiper Qatar Mahmoud Abunada terhadap Remo Freuler. Namun, proses sebelum terjadinya pelanggaran tersebut berbau offside.

Masalahnya, siaran langsung televisi tidak menampilkan grafis 3D animasi offside seperti biasanya untuk mengonfirmasi keputusan tersebut kepada publik. Ketiadaan tayangan ulang yang meyakinkan ini tak pelak memicu kecaman keras dari para penggemar dan pandit sepak bola.

Klarifikasi Terlambat dari FIFA

Lebih dari empat jam setelah insiden terjadi, FIFA baru merilis pernyataan resmi melalui media sosial mereka. Mereka berdalih bahwa sistem mengalami mati total sesaat sehingga grafis gagal ditampilkan.

“Selama pertandingan Qatar vs Swiss di San Francisco Bay Area, pemadaman teknis singkat mencegah grafis animasi onside dihasilkan sebelum penalti diberikan kepada Swiss pada menit ke-14. Masalah tersebut dengan cepat diselesaikan,” bunyi pernyataan resmi FIFA.

Pernyataan tersebut juga menyertakan foto berupa garis manual (2D) dari VAR sebagai bukti bahwa Freuler maupun Embolo berada dalam posisi onside. Namun, grafis animasi 3D yang menjadi standar turnamen sama sekali tidak dirilis.

“Alur kerja VAR tidak terpengaruh oleh masalah ini dan tetap mengikuti prosedur normal dalam memeriksa keputusan di lapangan,” lanjut pernyataan tersebut.

Pandit Mengamuk: ‘FIFA Seperti Diktator!’

Klarifikasi FIFA nyatanya tidak mampu meredam kemarahan. Legenda Manchester United yang kini menjadi pandit untuk ITV, Gary Neville, melontarkan kritik super tajam dengan menyamakan otoritas sepak bola tertinggi itu dengan sebuah kediktatoran.

“Kita semua yang duduk di sini, dan semua orang di rumah, berpikir gol itu offside,” cetus Neville. “FIFA adalah tuan rumah, mereka memiliki bukti dari keputusan otomatis—lalu mengapa mereka tidak menunjukkannya kepada kita?”

Neville menyoroti bahwa insiden serupa pernah terjadi di turnamen sebelumnya, yang membuat tingkat kepercayaan publik terhadap FIFA semakin merosot.

“Ada tanda tanya besar terhadap keputusan itu karena bagi saya itu offside sampai mereka bisa membuktikan sebaliknya. Ini seperti diktator dalam gagasan bahwa mereka menahan bukti ini dan tidak menunjukkannya kepada para penggemar. Ini konyol. Buktikan kepada kami bahwa itu offside. Di mana transparansinya?” kecam Neville.

Rekan sesama pandit, Ian Wright, turut menyuarakan kekesalannya. “Mereka melakukan apa pun yang mereka mau. Kita melihatnya sekarang. Ini benar-benar sebuah skandal,” tegas legenda Arsenal tersebut.

Laga itu sendiri akhirnya ditutup dengan dramatis setelah kapten Qatar, Boualem Khoukhi, mencetak gol penyeimbang di menit ke-94.