Armada pesawat Garuda Indonesia. (Foto: Instagram.com/@garuda.indonesia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) berpotensi mengguncang kondisi keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (Persero/GIAA). Maklum, avtur merupakan komponen biaya operasional terbesar bagi maskapai pelat merah tersebut.
Dikutip dari akun Instagram @algoresearch, Kamis (2/4/2026), Garuda Indonesia diprediksi bakal mengalami “shock” energi yang cukup signifikan. Biaya avtur yang porsinya mencapai 30 persen dari total pengeluaran, dipastikan membengkak.
Kenaikan ini tak lepas dari meroketnya harga minyak dunia. Di kawasan Asia, harga bahan bakar jet, tercatat melonjak hingga 130 persen dalam sebulan terakhir.
Kondisi ini membuat maskapai penerbangan berada di posisi sulit. Di satu sisi, kenaikan harga tiket pesawat nyaris tak terhindarkan demi menjaga kesehatan keuangan. Namun di sisi lain, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Akibatnya, potensi penurunan jumlah penumpang pun membayangi. Masyarakat cenderung menunda perjalanan di tengah harga tiket yang kian mahal.
Berdasarkan data @algoresearch, belanja avtur Garuda Indonesia pada 2025 mencapai US$973 juta atau sekitar 30,3 persen dari total pengeluaran.
Pos biaya terbesar berikutnya adalah penyusutan aset sebesar US$671 juta (20,9 persen), gaji pegawai US$473 juta (14,7 persen), perbaikan dan perawatan pesawat US$237 juta (7,4 persen), layanan pesawat US$217 juta (6,7 persen), pemasaran US$170 juta (5,3 persen), serta pos lainnya US$148 juta (4,6 persen).
Garuda Indonesia Si ‘Anak Emas’
Mungkin banyak yang belum tahu, Garuda Indonesia sejak lama memang bak “anak emas” negara. Setiap kali menghadapi tekanan keuangan, maskapai ini hampir selalu mendapat uluran tangan pemerintah.
Salah satu contohnya terjadi pada akhir 2025, ketika Danantara Indonesia mengucurkan dana jumbo sebesar US$1,4 miliar atau setara Rp23,7 triliun. Namun, suntikan tersebut belum mampu sepenuhnya memperbaiki kinerja keuangan.
Sepanjang 2025, Garuda Indonesia masih membukukan kerugian sebesar US$322,4 juta, melonjak sekitar 450 persen dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang sebesar US$72,7 juta.
Sejarah bantuan pun terbilang panjang. Pada 2011, Garuda Indonesia meraup dana Rp3,3 triliun melalui penawaran saham perdana (IPO).
Kemudian pada 2014, perusahaan kembali memperoleh dana Rp1,4 triliun dari rights issue. Dua tahun berselang, suntikan modal negara kembali mengalir sebesar Rp8 triliun, ditambah peningkatan modal melalui penerbitan saham baru senilai Rp7,8 triliun.
Pada 2022, pemerintah lagi-lagi turun tangan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp7,5 triliun.
Kejutan Energi
Meski telah berulang kali mendapat dukungan dana, kinerja keuangan Garuda Indonesia masih belum stabil. Triliunan rupiah yang digelontorkan negara seolah belum mampu membawa perusahaan keluar dari tekanan.
Kini, tantangan baru datang dari lonjakan harga avtur. Beban biaya yang semakin berat berpotensi memperdalam tekanan terhadap keuangan perusahaan.
Pertanyaannya, di tengah badai biaya dan daya beli yang belum pulih, mampukah Garuda Indonesia menjaga sayapnya tetap terkembang, atau justru kian “retak” di tahun ini?
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













